3 Kasus Gagal Ginjal Akut Ditemukan di Sleman, 2 Sembuh

Kepala Dinkes Sleman Cahya Purnama / SMJogja.com - Amelia Hapsari

SLEMAN, SMJogja.com – Selama kurun Januari hingga Oktober 2022, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman menerima laporan tiga kasus gagal ginjal akut progresif menyerang anak-anak. Ketiganya sudah dirujuk ke RSUP Sardjito setelah masing-masing menjalani perawatan di Rumah Sakit Akademik UGM, RSUD Sleman, dan RS Hermina.

Namun dalam perkembangannya, satu pasien berusia 10 tahun meninggal dunia sedangkan dua anak lainnya berhasil sembuh. “Gejalanya sama dengan gagal ginjal akut yang memang sampai sekarang belum ditemukan penyebabnya. Kami sudah melakukan investigasi dan saat ini sedang proses surveilans,” kata Kepala Dinkes Sleman Cahya Purnama, Jumat (21/10).

Menanggapi indikasi gangguan gagal ginjal akibat cemaran kandungan obat berbentuk sirup, pihaknya telah menginstruksikan semua faskes supaya tidak memberikan obat jenis tersebut kepada pasien. Meskipun sejauh ini, sediaan obat di gudang farmasi Dinkes Sleman dinyatakan aman. Tidak terdapat lima produk obat sirup yang ditarik peredarannya oleh BPOM karena mengandung etilen glikol, dan dietilen glikol dengan kadar melebihi ambang batas aman.

“Sediaan obat sirup di gudang POAK (pengelolaan obat dan alat kesehatan) semuanya generik, bukan merek dagang. Tapi kami tetap mengimbau puskesmas agar jangan memberikan obat sirup sampai hasil investigasi keluar,” tandas Cahya.

Read More

Lebih lanjut dia menjelaskan, kasus semacam ini tidak hanya terjadi pada pasien yang mengalami keracunan obat tapi juga bisa diakibatkan infeksi. Terlebih di musim hujan, penyakit leptospirosis rawan merebak. Jika pasien leptospirosis terlambat mendapat penanganan akan memunculkan resiko gagal ginjal akut.

Infeksi bakteri Leptospira umumnya ditandai demam tinggi, warna sklera mata berubah menjadi kuning atau merah, serta rasa sakit di bagian betis. Sepanjang tahun ini sudah ditemukan 29 kasus leptospirosis dan satu pasien diantaranya meninggal dunia.

Dokter spesialis anak RSUD Slemam Raden Yuli Kristianto mengatakan, secara umum, gejala gagal ginjal akut bisa diamati dari berkurangnya produksi urine. Karena itu jika anak mengalami penurunan jumlah urine atau tidak kencing hingga enam jam, disarankan segera dibawa ke dokter.

Untuk pengobatan, tenaga kesehatan tidak meresepkan dulu obat berbentuk cair melainkan diganti dengan puyer homoterapi.

Related posts

Leave a Reply