98 Persen Sanitasi di Sleman Sudah Layak dan Aman

Dubes Australia untuk Indonesia, Penny Williams saat kunjungan ke rumah warga penerima manfaat hibah air minum di Mudal, Sariharjo, Ngaglik, Senin (12/9) / dok

SLEMAN, SMJogja.com – Hasil pembangunan sarana air minum dan sanitasi di Kabupaten Sleman dinilai cukup memuaskan. Saat ini akses air minum masyarakat telah mencapai 100 persen dimana 21 persen berasal dari perpipaan, dan 79 persen adalah jaringan non-perpipaan berupa sumur gali milik warga.

Pengelolaan jaringan perpipaan perkotaan dilakukan oleh PDAM, sedangkan di perdesaan dikelola oleh masyarakat melalui Sistem Penyediaan Air Minum Perpipaan Pedesaan (Spamdes), dan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Adapun akses sanitasi, dilaporkan terealisasi sebesar 98 persen terdiri dari 76 persen akses sanitasi layak, dan 22 persen sanitasi aman air limbah. Sementara 2 persen lainnya dinyatakan masih belum layak. 

“Kami berkomitmen akan menyelesaikan yang dua persen itu hingga tahun 2025. Nanti disosialisasikan lagi ke masyarakat dan diupayakan penyambungan pipa,” kata Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo saat kunjungan ke rumah warga penerima manfaat hibah air minum di Mudal, Sariharjo, Ngaglik, Senin (12/9).

Program hibah air minum dan sanitasi ini merupakan hasil kerjasama Pemkab Sleman dengan pemerintah Australia, dan Bappenas. Sasaran program itu adalah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Sejak kerjasama bergulir pada tahun 2013, hingga sekarang sudah sekitar 12 ribu sambungan jaringan yang terpasang. Total nilainya kurang lebih Rp 10,8 miliar.

Read More

Pada kesempatan itu, Dubes Australia untuk Indonesia, Penny Williams juga turut menyaksikan langsung hasil program kemitraan. “Kami ada program kemitraan air bersih dan sanitasi bekerjasama dengan Pemkab Sleman dan Bappenas. Karena saya sedang berada di Yogyakarta dalam rangka pertemuan Ministerial G20, sekaligus berkesempatan mengunjungi Sleman,” tuturnya.

Pemerintah Australia telah beberapa kali menyalurkan bantuan hibah air minum 

dan sanitasi kepada Pemkab Sleman. Diantaranya program hibah Air Minum Perkotaan dari Pemerintah Australia (AusAID), Air Minum Berbasis Kinerja (AMBK), dan sAIIG. Pelaksana teknis program tersebut adalah PDAM Sleman.

Direktur PDAM Sleman Dwi Nurwata mengatakan, penetapan sasaran penerima hibah ini dilakukan melalui prosedur yang ketat. Diawali dengan survei oleh konsultan dari Jakarta dilanjutkan verifikasi oleh BPKP. Jika dinyatakan layak, baru setelah itu disahkan menjadi penerima sambungan MBR.

Tahun ini, pihaknya menargetkan 1.000 sambungan bagi MBR. Sesuai program hibah air minum, warga dikenai harga sambungan yang minimal.

Related posts

Leave a Reply