Apartemen dan Kondotel Milik Tersangka Korupsi Bank Jogja Disita

Petugas Kejati DIY menyita aset apartemen di Sleman milik tersangka korupsi Bank Jogja, Senin (5/9/2022) / dok

YOGYAKARTA, SMJogja.com – Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIY kembali menyita aset milik tersangka korupsi dan pencucian uang dana kredit PD BPR Bank Jogja. Kali ini, aset yang disita dari tangan Tito Sudarmanto berupa 1 unit apartemen yang terletak di Jalan Jembatan Baru UGM Sleman, dan 2 kondotel di Jalan Mayjen Sutoyo Yogyakarta.

Penyitaan telah dilakukan pada Senin (5/9) kemarin berdasar penetapan Ketua PN Yogyakarta, dan Surat Perintah Kepala Kejati DIY. “Ini adalah penyitaan yang kesekian kalinya. Sebelumnya, penyidik sudah mengamankan beberapa aset milik tersangka Tito Sudarmanto,” kata Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati DIY Herwatan saat dikonfirmasi, Selasa (6/9).

Tito ditetapkan sebagai tersangka pada awal Juni 2022 bersama rekannya sesama mantan karyawan PT Transvision Yogyakarta bernama Agus Kurniawan. Keduanya langsung ditahan. Sejak kasusnya bergulir, aset senilai miliaran rupiah milik Tito sudah berhasil diamankan oleh penyidik.

Diantaranya uang tunai sekitar Rp 660 juta, 5 bidang tanah di Kabupaten Batang yang dijadikan kandang ternak ayam dan garasi bis, serta 10 bidang tanah kavling bangunan ruko di Temanggung. Properti lainnya berupa sebuah ruko counter handphone di wilayah Sleman, 1 unit bis, dan 5 bidang lahan di Bantul dalam wujud rumah, vila, dan tanah kosong. Adapun apartemen dan kondotel yang disita diketahui dibeli oleh tersangka pada tahun 2018.

Read More

Kasus yang menjerat Tito bermula dari pengajuan kredit oleh pihak Transvision kepada Bank Jogja sepanjang kurun tahun 2019-2020. Namun ternyata data 162 karyawan yang diajukan sebagai penerima kredit hanya fiktif 

Proses pengajuan kredit bermasalah itu ditengarai melibatkan empat oknum pegawai Transvision yaitu Tito Sudarmanto, Agus Kurniawan, Klau Victor, dan Farrel Everald Fernanda. Dua nama terakhir sudah menjalani sidang dan divonis bersalah.

“Awalnya angsuran tersebut dibayar tapi kemudian cicilannya macet hingga merugikan negara sejumlah Rp 27,44 miliar,” ungkap Herwatan.

Adapun peran Tito dan Agus dalam perkara ini, masing-masing diduga menerima bagian uang Rp 660,6 juta dan 512,5 juta dari total kredit sebesar Rp 29,85 yang dicairkan.

Related posts

Leave a Reply