Basmi Kejahatan Jalanan, Perlu Keroyokan Seperti Hadapi Pandemi Covid-19

Ketua Aptisi Wilayah V DIY, Prof Fathul Wahid ST MSc PhD dalam diskusi membahas kekerasan dan kejahatan jalanan / dok UII

JOGJA, SMJogja.com – Kejahatan jalanan bukan hanya persoalan aparat keamanan. Tindak kriminal tersebut bakal mereda kalau semua bisa keroyokan mengantisipasinya. Kebersamaan semua unsur mulai dari keluarga, sekolah, kampus, komunitas, warga sangat penting.

Kepala Sub Direktorat Babinkantibmas Polda DIY, AKBP Sinungwati SH MH mengungkapkan hal itu dalam diskusi di STIPRAM. Diskusi secara daring dan luring bertema ”Yogyakarta Kota Pelajar: Merumuskan Solusi Kejahatan Jalanan Remaja”. Kegiatan tersebut merupakan program Asosiasi
Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Wilayah V Yogyakarta. Di samping itu, juga melibatkan sejumlah pihak seperti kepolisian dan dinas terkait.

”Membasmi kejahatan jalanan ibaratnya membasmi pandemi Covid-19 sehingga semua pihak perlu keroyokan, bersama-sama karena tujuannya tak hanya meminimalkan tetapi menghilangkan,” tandas Sinungwati.

Menurutnya semua pihak bisa ambil bagian dalam mengantisipasi kejahatan jalanan. Bahkan kampus dapat menggelar program kerja sama dengan berbagai pihak termasuk polisi. Salah satu caranya, melakukan edukasi ketika mahasiswa KKN. Kecuali edukasi, mereka juga bisa menjadi pendamping anak-anak yang bermasalah di tempat KKN.

Read More

”Bisa saja kampus melakukan edukasi, pelatihan dan pendampingan anak-anak, remaja, pengangguran di daerah KKN. Beri mereka pelatihan misalnya terkait teknologi informasi dan komunikasi, membuat konten menarik, lakukan editing dan lainnya,” ujar Sinungwati.

Peta Rawan

Ia yang mengepalai ratusan Babinkamtibmas di DIY menyatakan sudah melakukan pemetaan hingga ke tingkat RT. Di sana terlihat jelas daerah-daerah yang tingkat kerawanan tinggi, sedang dan biasa sehingga penanganan bisa lebih tepat sasaran.

Personilnya selalu terjun ke lapangan memantau situasi sekaligus memetakan daerahnya. Berdasarkan pemetaan tersebut, polisi mendapat gambaran daerah yang memerlukan perhatian khusus. Ia sudah menandai daerah tertentu yang memang rawan dan memerlukan penanganan tersendiri.

Ketua Aptisi Wilayah V DIY, Prof Fathul Wahid ST MSc PhD mengatakan ada beberapa poin penting dalam diskusi yakni kondisi kapitalisme yang membuat banyak kelompok masyarakat merasa tersisihkan di tengah pembangunan pesat kota Yogyakarta.

Minimnya ruang publik untuk berekspresi, dan semakin meningkatnya ruang ekspresi yang menjadi area privat yang berbayar. Dampaknya, jalanan menjadi ruang tak berbayar untuk berekspresi. Fenomena pembangunan yang terjadi justru meningkatkan situasi kota menjadi individualis, egois, permisif, dan minim kontrol terkait implementasi nilai dan norma.

”Berbagai fenomena dan perkembangan tersebut menjadikan Yogyakarta sebagai kota
potensial untuk peredaran narkoba. Hal ini yang mendorong peningkatan tindakan kekerasan dan kejahatan jalanan,” ujar Rektor UII tersebut.

Related posts

Leave a Reply