Bencana di Sekolah Bukan Hanya Alam Tapi Juga Perundungan, Intoleransi dan Pelecehan

GKR Mangkubumi saat menyampaikan sekolah harus aman dan nyaman untuk peserta didik / Agung PW

JOGJA, SMJogja.com – Persoalan bencana tak hanya bencana alam tetapi juga lainnya seperti perundungan, intoleransi dan pelecehan seksual. Perlu edukasi dan sosialisasi mengatasi persoalan tersebut supaya anak-anak didik merasa aman dan nyaman selama proses pembelajaran.

Dewan Pembina Yayasan Plan International Indonesia, GKR Mangkubumi mengungkapkan itu pada Program Provinsi Model Satuan Pendidikan Aman Bencana DIY di Hotel Harper. Kegiatan berlangsung secara luring dan daring.

Menurutnya pendidikan merupakan bekal bagi generasi penerus untuk melakukan banyak hal. Ia menegaskan perlunya memperhatikan bencana di dalam dan luar ruangan. Termasuk persoalan-persoalan yang membuat siswa tidak nyaman yakni perundungan, intoleransi dan pelecehan seksual.

”Edukasi dan sosialisasi menjadi penting supaya di sekolah tidak terlalu banyak persoalan yang membuat anak tidak nyaman. Anak-anak harus nyaman dan bebas dari perundungan, intoleransi dan pelecehan seksual supaya mereka bisa memperoleh pendidikan yang berkualitas,” tandas Mangkubumi.

Read More

Sudah Berjalan

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY, Didik Wardaya mengungkapkan sekolah di DIY mulai dari PAUD hingga SMA/SMK jumlahnya mencapai 2.766. Namun demikian, dari jumlah tersebut baru 214 sekolah yang masuk dalam kategori Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Karena itu, penting mendorong sekolah-sekolah agar bisa menjadi SPAB agar peserta didik merasa aman dan nyaman selama mengikuti pembelajaran.

”Persoalan bencana tak hanya bencana alam tetapi juga lainnya seperti perundungan, intoleransi dan pelecehan seksual. Masing-masing sekolah memiliki karakteristik sehingga edukasi dan penanganannya juga berbeda-beda sesuai dengan situasi dan kondisinya,” papar Didik.

Program Satuan Pendidikan Aman Bencana sebenarnya sudah berjalan di DIY sejak tahun 2010 lalu. Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa. Berbagai langkah pencegahan mulai dari edukasi, sosialisasi perlu mendapat perhatian serius. Bahkan, harus terus-menerus tidak boleh berhenti karena siswa selalu berganti.

Direktur Eksekutif Yayasan Plan International Indonesia, Didik Widyastuti menambahkan program SPAB menjadikan DIY sebagai model bagi daerah lain. Ada ribuan anak di seluruh Indonesia terutama di delapan provinsi yang memperoleh pendampingan terkait sekolah aman bencana.

”DIY menjadi model dan ini penting agar semua sekolah siap menghadapi risiko bencana sehingga benar-benar tangguh,” imbuhnya.

Related posts

Leave a Reply