Cegah Cacar Monyet, Selalu Pakai Masker

Memakai masker dan sering mencuci tangan merupakan bagian pencegahan penularan cacar monyet / dok Kemenkes RI

JOGJA, SMJogja.com – Salah satu cara menghindari terpapar cacar monyet yakni selalu memakai masker seperti halnya mencegah penularan Covid-19. Seseorang harus mengindari kontak langsung dengan orang bergejala.

Gejala penyakit cacar monyet pada manusia memiliki kemiripan dengan penyakit cacar. Beberapa tanda yang muncul seperti demam lebih dari 38,5 derajat Celcius, lemah, menggigil dengan atau tanpa keringat, nyeri tenggorokan dan batuk, pegal- pegal, pembengkakan kelenjar limfa, sakit kepala. Muncul ruam makular-papular berbatas jelas, vesikular, pustular, hingga lesi berkeropeng.

”Cacar monyet menular dari hewan ke manusia saat mengonsumsi atau melakukan kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi. Transmisi cacar monyet melalui berbagai jenis satwa liar dari hewan pengerat seperti tikus dan tupai serta primata yaitu kera dan monyet,” papar Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof Dr drh Wayan Tunas Artama.

Cuci Tangan

Read More

Selain memakai masker, upaya pencegahannya yakni menjaga kebersihan tangan dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun atau handsanitizer. Menerapkan hubungan seksual yang aman, serta menerapkan etika batuk dan bersin yang benar.

Wayan menambahkan, vaksinasi juga bisa mencegah cacar monyet. Berdasarkan studi Regnery 2007, vaksinasi menggunakan vaksin cacar atau orthopoxvirus lain seperti virus vaccinia mampu memberikan perlindungan parsial terhadap infeksi virus monkeypox. Pada tahun 2019, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyetujui vaksin JYNNEOSTM untuk mencegah penyakit cacar monyet dengan efektivitas mencapai 85 persen.

Cacar monyet merupakan penyakit endemik di Afrika Barat dan Tengah. Penyebabnya, virus monkeypox, yaitu virus DNA untai-ganda beramplop dari genus Orthopoxvirus, dan famili Poxviridae. Virusnya memiliki dua clade genetik yang berbeda, yaitu clade Afrika Barat dan clade Congo Basin (Afrika Tengah). Data WHO 2022 menyebutkan tingkat kematian kasus clade Congo Basin dilaporkan lebih tinggi dibandingkan clade Afrika Barat, yaitu secara berurutan 10 persen dan 1 persen.

Related posts

Leave a Reply