Dukung Ekspor, Produktivitas Salak Sleman Digenjot

caption

SLEMAN, SMJogja.com-Komoditi salak pondoh dari Kabupaten Sleman masih memiliki peluang besar untuk ekspor. Setiap tahunnya tercatat kebutuhan ekspor mencapai 1.000 hingga 2.000 ton.

Sementara, produktivitas tanaman salak per tahun rata-rata hanya berkisar 2.040 hingga 2.880 ton. Rendahnya angka produktivitas ini, menurut Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, disebabkan faktor usia tanaman yang sudah tua.
“Sebagian pohon salak yang ditanam usinya sudah lebih dari 20 tahun sehingga tidak lagi produktif,” kata Danang, Senin (24/1).

Saat ini di Sleman terdapat 3.000 hektare atau sekitar 6 juta rumpun tanaman salak lahan perkebunan salak di Sleman yang tersebar di Kapanewon Turi, Tempel, dan Pakem. Adapun lahan yang sudah berproduksi kurang lebih 2.000 hektare atau setara 3 juta rumpun. Untuk meningkatkan produktivitas, salah satu upaya yang dilakukan Pemkab Sleman adalah peremajaan pohon salak. Pohon yang berumur lebih dari 20 tahun akan dilakukan program cangkok induk.”Kita akan melaksanakan program itu tahun. Harapannya tidak hanya produktivitasnya saja yang meningkat, tapi juga kualitas tanaman,” ujar Danang.

Seiring peningkatan produktivitas nantinya diharapkan ekspor salak bisa terdongkrak. Sepanjang tahun 2021, Sleman telah mengirimkan salak ke Kamboja sebanyak 160 ton. Angka itu, diakui Danang masih sedikit. Penurunan volume ekspor ini tidak lepas dari situasi pandemi Covid-19 sehingga pengiriman barang hanya dapat dilakukan melalui kapal laut.

Read More

“Kami optimis di tahun 2022 ekspor salak akan naik. Pemda akan terus memberikan dukungan,” katanya.


Selain dari sisi produksi, dukungan ekspor juga dilakukan melalui sosialisasi dan komunikasi dengan kelompok tani. Pasalnya masih banyak kelompok petani salak yang belum terakomodir dalam kegiatan ekspor. Kendala utamanya ada pada proses birokrasi. Oleh karena itu ke depan, tahapan registrasi akan dipermudah.

Permasalahan lain yang muncul menyangkut kurangnya komunikasi antara pihak eksportir dengan kelompok tani terintegrasi GAP (Good Agriculture Practises). Terkait hal ini, Pemkab akan memfasilitasi supaya memudahkan koordinasi antara kedua belah pihak.

Related posts

Leave a Reply