“Dusner” dan Bahasa Ibu Yang Hilang

Proses pembuatan film melibatkan komunitas Papua / ist

JOGJA, SMJogja.com – Unit Kegiatan Mahasiswa Muhammadiyah Multimedia Kine Klub Universitas Muhammadiyah Yogayakarta menorehkan prestasi di ajang nasional. Mereka meraih juara 1 melalui film pendek yang berjudul ”Dusner” dalam Festival Film Pendek Berbahasa Daerah tahun 2022.

Produser film ”Dusner”, Umar Al Jufri mengungkapkan festival merupakan gelaran Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud-ristek). Kompetisi Festival Film Pendek Berbahasa Daerah 2022 diikuti ratusan peserta, dari kategori SMA/SMK/sederajat maupun kategori mahasiswa/umum.

”Keberhasilan ini sebanding dengan usaha seluruh tim. Di setiap pembuatan film tentunya kami memiliki target juara termasuk ”Dusner”. Hasil tersebut sesuai dengan usaha dan perjuangan yang telah kami lakukan, mulai dari proses pra produksi hingga pasca produksi,” papar Umar.

Tim UMY dalam proses pembuatannya menemui beberapa kendala seperti pemilihan aktor, penerjemahan naskah, dan set up lokasi. Pasalnya, film mereka mengusung tentang penyelamatan bahasa daerah Papua sehingga agak kesulitan mencari aktor yang asli dari Papua, juga penerjemahan naskah.

Read More

Komunitas Papua

Umar dan tim ingin para aktor tidak memakai bahasa Papua yang formal tapi bahasa asli dari beberapa suku di sana. Selain itu, pemilihan lokasi juga menjadi kendala karena mereka memerlukan lokasi hutan yang seperti di Papua sekaligus pembuatan rumah honai. Akhirnya kendala bisa teratasi berkat bantuan komunitas Papua.

”Meskipun menemui kendala, proses pembuatan film tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 1,5 bulan. Proses pre-production meeting menghabiskan waktu tiga minggu, sedangkan untuk proses produksi hanya memakan waktu tiga hari, dan terakhir pasca produksi memakan waktu sebulan,” papar sutradara, Yusuf Hayy.

Ia menjelaskan pemilihan bahasa daerah ”Dusner” dari Papua berangkat dari keresahan timnya atas banyaknya bahasa ibu atau bahasa daerah yang mulai punah di Indonesia. Kebanyakan yang punah yakni bahasa daerah di bagian timur termasuk salah satunya bahasa ”Dusner”.

Alasan lain di balik pemilihan bahasa daerah Papua karena MM Kine Klub ingin mencoba tantangan baru dengan memakai bahasa yang mungkin banyak orang awam tidak tahu. Mereka ingin keluar dari zona nyaman, karena biasanya setiap pembuatan film sudah sering menggunakan bahasa Jawa. Film ini merupakan sindiran untuk masyarakat milennial yang seringkali abai terhadap bahasa daerahnya sendiri.

Related posts

Leave a Reply