Ekosistem Pertembakauan Potret Gotong Royong

Sekjen Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), Hananto Wibisono menyampaikan gagasan mengenai pertembakauan / Agung PW

JOGJA, SMJogja.com – Ekosistem pertembakauan merupakan salah satu potret realita gotong royong. Hal itu terlihat mulai dari petani, pekerja, UMKM, pedagang, industri hingga konsumen. Satu regulasi untuk satu elemen akan berdampak secara keseluruhan.

Sekjen Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), Hananto Wibisono mengungkapkan dalam diskusi ”Ketimpangan Perlindungan Hak Konsumen dalam Kebijakan Ekosistem Pertembakauan”, di Bilik Resto, Jogjakarta.

Menurutnya pada mata rantai ekosistem pertembakauan peran ekosistem pertembakauan sangat signifikan dalam pembangunan negeri ini. Tidak sedikit daerah-daerah sentra tembakau yang secara nyata telah memberikan dampak perekonomian bagi kawasan sekitarnya dan negara.

”Pemerintah jangan melihat ekosistem sebagai satu unsur. Ada keberlangsungan 24 juta penghidupan yang bergantung pada ekosistem pertembakauan. Begitu pula konsumen yang taat membayarkan cukai dan pajaknya melalui setiap satu batang produk,” papar Hananto.

Read More

Karena itu, ia berharap pemerintah mulai mengarahkan pandangannya dan melibatkan konsumen dalam porsi yang bijak dalam setiap perumusan dan penerapan regulasi ekosistem pertembakauan.

Semua Pihak

Anggota DPRD Kota Jogjakarta, Antonnius Fokki Ardianto tidak memungkiri ada regulasi di tingkat daerah maupun pusat yang belum mengakomodir kepentingan semua pihak, termasuk hak konsumen. Hal ini, karena masih lemahnya perjuangan kolektif suara konsumen.

”Pemerintah membutuhkan bukti nyata dalam bentuk data jumlah suara konsumen yang signifikan agar penyusunan regulasi dapat melindungi hak konsumen. Harus ada data yang representatif, yang menggambarkan kontribusi dan sumbangsih konsumen agar mereka punya daya tawar,” tandasnya.

Ekonom dari USD, Antonius Budi Susilo menilai lemahnya data kuantitatif dan kualitatif terkait konsumen dan produk tembakau membuat regulasi pengendalian tembakau semakin masif dan penuh tekanan. Dengan pendekatan pembangunan, tembakau terlanjur dianggap dan disudutkan sebagai komoditas negatif.

”Regulasi pertembakauan yang ada dikelilingi intervensi kesehatan dan mengabaikan hak konsumen,” tegasnya.

Related posts

Leave a Reply