Giri Raih Sarjana dalam Kondisi Buta Total

Giri Trisno Putra Sambada berbicara mewakili wisudawan / dok UGM

JOGJA, SMJogja.com – Pada wisuda UGM beberapa waktu lalu, ada satu lulusan yang memperoleh berkah luar biasa. Giri Trisno Putra Sambada, sang empunya nama yang mendapat kebahagiaan luar biasa. Dalam kondisi buta total, ia berhasil menyelesaikan studi dan meraih gelar sarjana ekonomi.

Keterbatasan fisik tak menjadi hambatan baginya untuk menorehkan prestasi. Ia bercerita, awalanya merupakan remaja normal seperti anak-anak lainnya. Namun ia mulai kehilangan penglihatan saat berada di bangku kuliah pada tahun 2015 silam.

”Masuk kuliah tidak ada masalah tapi menginjak semester dua, penglihatan saya buta total. Seolah runtuh semua cita-cita, hilang semua harapan, seperti tak mungkin lagi menjadi apa-apa,” tutur anak pasangan Sutrisno (55) dan Ngersi Suprihatin (45) tersebut.

Kendati demikian, ia bertekad menyelesaikan studi apalagi kampus memberi peluang. Dosen dan teman-temannya memberi dukungan dan sangat membantu dirinya. Hingga akhirnya ia bisa menjadi wakil wisudawan memberikan kata sambutan di depan wisudawan dan pimpinan universitas.

Read More

Jual Soto

Giri dan orang tuanya tinggal di Minggiran MJII/1197, Matrijeron, Yogyakarta. Kedua orang tua sehari-hari berjualan soto di daerah Tamanan, Bantul. Sebelumnya sang ayah memiliki usaha sendiri namun karena sakit kemudian membantu istri berjualan soto. Ia masih memiliki adik yang sedang menempuh studi S1 di salah satu kampus di Jogja.

”Fungsi penglihatan saya menurun saat mengikuti kuliah di kelas. Tanpa sakit, tiba-tiba tidak bisa melihat lagi, semua terlihat samar dan hanya berwarna putih,” ujarnya melanjutkan cerita.

Ia menjalani perawatan di RSUP Dr Sardjito sekitar empat bulan dengan hasil pemeriksaan ada peradangan pada saraf mata. Kesedihan begitu terasa, ia bingung harus melakukan apa sehingga memutuskan cuti kuliah. Selama masa cuti, ia menjalani terapi di berbagai tempat namun hasilnya nihil. Penglihatannya memburuk hingga semua terasa hitam dan gelap.

”Saya berusaha untuk menunjukkan pada semua orang, meski penyandang disabilitas tapi bisa berprestasi. Saya kembali ke bangku kuliah dengan tekad harus lulus sarjana,” tegasnya.

Kampus UGM sangat ramah bagi penyandang disabilitas seperti dirinya. Bahkan dosen tak jarang datang ke rumah menjelaskan mata kuliah tertentu. Menjadi penyandang disabilitas tak mematahkan semangatnya untuk tetap berprestasi. Ia berhasil mendapatkan beasiswa pendidikan sarjana dari Tanoto Foundation. Saat ini, ia kembali bisa memeroleh beasiswa dari lembaga tersebut untuk melanjutkan pendidikan jenjang S2 di FEB UGM.

Related posts

Leave a Reply