Haram Bukan Hanya Babi, Jadikan Halal sebagai Gaya Hidup

Diskusi halal berlangsung daring dan luring dari KJRI Istanbul, Turki / ist

JOGJA, SMJogja.com – Gaya hidup halal mulai mengalami perkembangan tidak hanya di negara dengan mayoritas penduduk muslim tapi juga negara lain. Isu ini menarik sehingga mendorong tim dosen Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan menggelar kegiatan halal life style.

Kegiatan khusus menyasar warga diaspora Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dan Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA) Turki. Narasumber menyampaikan materi secara daring dan luring terbatas dari KJRI Instanbul, Turki.

Tim dosen terdiri atas Dr apt Dwi Utami MSi, apt Yudha Rizky Nuari MSc, apt Ginanjar Zuhruf Saputri MSc dan apt Citra Ariani Edityaningrum MSi. Mereka mengungkapkan perbedaan jaminan produk halal antara Indonesia dan Turki membuat warga diaspora memerlukan pengetahuan dan pemahaman lebih dalam.

Pengetahuan Terbatas

Read More

”Berdasarkan penggalian data di awal, mayoritas memahami produk halal terbatas produk yang tidak mengandung babi. Padahal tidak hanya itu, banyak aspek lainnya,” ujar salah satu narasumber, Dr apt Nina Salamah MSc.

Menurutnya, haram dalam Al-Qur’an tidak hanya produk yang mengandung daging babi, namun juga mengandung bangkai dan darah babi. Selain itu, daging binatang yang disembelih dengan nama selain Allah, daging binatang yang tidak disebut asma Allah ketika disembelih dan khamr (minuman atau makanan yang memabukkan dan turunannya).

Bangkai hewan ternak atau unggas yang mati sendiri, mati karena dicekik, dipukul, jatuh, ditanduk, atau diterkam, juga tidak halal. Produk non halal lainnya yaitu yang mengandung organ manusia seperti L.sistein dari rambut manusia untuk pengembang roti, penyubur ASI dari plasenta hewan, dan kosmetik dari plasenta juga tidak halal. Makanan dari binatang buas seperti serigala, harimau, dan singa juga haram. Ia juga menjelaskan bagan pengolahan produk dan titik-titik kritis kehalalannya.

Seluruh Proses

Narasumber apt Yudha Rizky Nuari MSc menjelaskan halal life style dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Ia memaparkan alur sertifikasi halal, UU Jaminan Produk Halal, serta perubahan label halal di Indonesia.

”Penilaian halal atau tidak suatu produk dan jasa dilihat dari semua prosesnya, mulai dari hulu ke hilir. Untuk memastikan kehalalan semua bahan, fasilitas, dan produk maka ada 11 hal yang berkaitan mulai kebijakan halal, tim manajemen halal, pelatihan dan edukasi. Ada pula bahan, produk, fasilitas produksi, prosedur tertulis aktivitas kritis, kemampuan telusur, penanganan produk yang tidak memenuhi kriteria, audit internal, dan kajian ulang manajemen,” paparnya.

Usai diskusi, tim melakukan evaluasi dan terjadi peningkatan pengetahuan dan pemahaman. Di awal jumlah peserta yang memiliki skor tinggi hanya 20% kemudian meningkat menjadi 43%. Mereka berharap sosialisasi halal terus berjalan agar pemahaman masyarakat semakin meningkat.

Related posts

Leave a Reply