Ingat, Deteksi Dini Glaukoma Cegah Kebutaan!

Dr dr Emma Rusmayani SpM(K) usai memaparkan hasil penelitiannya / ist

JOGJA, SMJogja.com – Glaukoma salah satu gangguan penglihatan yang dapat mengakibatkan kebutaan. Data dari WHO menyatakan glaukoma merupakan penyebab utama kebutaan yang tidak dapat disembuhkan (irreversible). Karena itu perlu deteksi dini guna mencegah dampak parah.

Inilah yang menjadi fokus penelitian Spesialis mata dari JEC Eye Hospital and Clinics, Dr dr Emma Rusmayani SpM(K). Ia melakukan terobosan mendeteksi dini glaukoma menggunakan prosedur Ischemia Modified Albumin (IMA) dengan mudah dan harga terjangkau. Biasanya masyarakat enggan melakukan deteksi karena biayanya cukup tinggi.

Terobosan tersebut dengan penelitian berjudul ”Tinjauan Kadar Ischemia-Modified Albumin, Tumor Necrosis Factor Alfa, dan Malondialdehyde Pada Humor Akuos dan Serum Darah Sebagai Penanda Iskemia Lokal dan Sistemik Pada Glaukoma Primer”.

”Glaukoma merupakan salah satu penyebab kebutaan terbanyak di seluruh dunia. Glaukoma menimbulkan masalah kesehatan masyarakat yang cukup signifikan karena pertambahan usia penduduk. Pasien membutuhkan penanganan yang berkesinambungan untuk mencegah progresivitas penyakit,” tandas Emma usai memaparkan penelitiannya dalam Ujian Terbuka, Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, UGM.

Read More

Sangat Krusial

Menurutnya deteksi dini menjadi hal yang sangat krusial terutama pada individu dengan faktor risiko. Bila tidak terdeteksi dini, glaukoma berpotensi mengakibatkan berkurangnya luas penglihatan dan berakhir pada kebutaan yang bersifat permanen.

Jumlah penyandang glaukoma menurut WHO bisa mencapai 76 juta di seluruh dunia. Individu dengan glaukoma harus memeriksakan matanya secara teratur. Glaukoma mayoritas bersifat asimptomatik sehingga sangat mungkin pasien tidak menyadari terjadinya penurunan fungsi penglihatan.

”Deteksi dini sangat berperan penting dalam mencegah progresivitas penyakit. Kerusakan saraf mata karena glaukoma tidak dapat disembuhkan dan kebutaan akibat penyakit ini berlangsung permanen,” imbuh Emma.

Ia mencoba memberikan alternatif deteksi dini glaukoma melalui penanda biologis Ischemia Modified Albumin (IMA). Pemeriksaan ini merupakan uji penanda biologis iskemia (kurangnya aliran darah ke dalam organ tubuh tertentu) yang sudah umum dilakukan pada diagnosis penyakit kardiovaskular atau penyakit sistemik lainnya.

Alternatif Deteksi

Patogenesis (proses perkembangan penyakit) yang terjadi pada glaukoma, salah satunya adalah proses iskemia kronik. Pemeriksaan kadar IMA humor akuos bertujuan menggambarkan kerusakan yang terjadi akibat proses iskemia. Pemeriksaan dapat menjadi alternatif deteksi yang lebih dini pada glaukoma dibandingkan dengan metode pemeriksaan yang sudah ada.

Melalui temuannya, Emma memberikan solusi penanganan glaukoma melalui deteksi dini dengan metode yang sederhana dan harga yang terjangkau. Pemeriksaan penanda biologis IMA dengan mengambil sampel humor akuos intraokular yang tidak dipengaruhi oleh perancu sistemik.

”Kepedulian terhadap upaya pencegahan gangguan penglihatan masyarakat Indonesia menjadi salah satu alasan kami selalu menyediakan teknologi mutakhir dan layanan komprehensif. Kami berharap mampu melanjutkan kontribusi pada dunia kesehatan mata di Tanah Air,” imbuh Kepala Divisi Markom JEC Eye Hospitals and Clinics, Mubadiyah SPsi MM.

Related posts

Leave a Reply