Kemiskinan di Sekitar Perkebunan Sawit

Para pakar menyampaikan pesoalaan kemiskinan di sekitar perkebunan sawit / ist

JOGJA, SMJogja.com – Kemiskinan di sekitar lahan sawit menjadi perhatian serius para pakar. Masyarakat yang tinggal di sekitar perkebunan belum mendapat dampak signifikan dari sisi ekonomi. Mereka masih berada dalam kondisi kemiskinan dan mengalami keterbatasan akses pada pangan dan sumber daya bahkan mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan karena ketiadaan lahan pertanian.

Oleh karena itu, Pemerintah seharusnya membuat kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar perkebunan sawit. Tujuannya, agar masyarakat sekitar bisa keluar dari kungkungan kemiskinan bukan hanya memberikan konsesi lahan pada perusahaan sawit.

Hal itu terungkap dalam konferensi internasional yang bertajuk ”The Paradox of Agrarian Change: Food Security and the politic of social Protection in Indonesia, di Gedung Masri Singarimbun, Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM.

”Program reformasi agraria yang dicanangkan Pemerintah belum berdampak pada upaya pengentasan kemiskinan terutama mereka yang tinggal di sekitar lahan perkebunan sawit. Mereka tak hanya miskin tetapi juga mengalami stunting,” ujar antropolog dari Universitas Indonesia, Suraya Afif PhD.

Read More

Menurutnya Pemerintah perlu mengatasi keterlanjuran tersebut. Isu agraria harus menjadikan persoalan kemiskinan dan stunting menjadi tujuan utama untuk memberikan kesejahteraan pada masyarakat di pedesaan. Di daerah sekitar perkebunan sawit kelompok perempuan paling terkena dampak.

Keluar Desa

Berdasarkan hasil penelitiannya, Afif menyebutkan banyak pemuda dan perempuan keluar dari desa untuk mencari penghasilan baru ke perkotaan karena mereka tidak memiliki mata pencaharian. Sebenarnya obsesi mereka mempunyai lahan untuk mata pencaharian namun lahan dikuasai perusahaan perkebunan.

”Tidak hanya kesulitan untuk mendapatkan akses sumber penghasilan, penduduk desa di sekitar perkebunan sawit juga memiliki kendala akses pada sumber pangan. Tidak hanya hidup miskin, para anggota keluarga juga mengalami persoalan stunting,” imbuhnya.

Sosiolog dari Universitas Sumatera Utara, Dr Henri Sitorus menuturkan pembukaan akses pangan dan sumber daya lahan sangat diperlukan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar perkebunan sawit. Studi kasus yang ia temukan sangat beragam terkait keamanan pangan dan perikanan. Belum lagi ketimpangan dan kesempatan kerja di perusahaan perkebunan.

Related posts

Leave a Reply