Kendala Pembangunan PLTN, Kebijakan Sosial dan Politik

Ilustrasi PLTN / Freepik

JOGJA, SMJogja.com – Pemerintah bisa mempertimbangkan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Tawaran Rusia mengenai pengembangan PLTN membangkitkan kembali semangat dan cita-cita mengembangkan energi nuklir.

Pengajar Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Fakultas Teknik UGM, Dr Ir Alexander Agung MSc menyampaikan hal itu menanggapi isi pertemuan Jokowi dan Putin. Menurutnya Rusia dan Tiongkok memang termasuk negara yang memimpin dalam pembangunan PLTN. Bahkan beberapa negara seperti Turki dan Bangladesh, juga berhasil membangun PLTN dengan basis teknologi Rusia.

”Meski perlu ada kajian mendalam soal PLTN, tawaran dari Putin membangkitkan kembali semangat dan cita-cita pengembangan energi nuklir. Tentunya perlu kajian yang mendalam,” ujar Agung.

Ia menjelaskan vendor PLTN tidak harus dari Rusia, bisa saja dari negara lain. Kajian serius perlu untuk memastikan secara tepat, tingkat daya yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan.

Read More

Kendala Utama

Agung menilai kendala utama pengembangan PLTN bukan bersumber dari sisi teknologi atau kesiapan sumber daya manusia. Ia menyebut aspek kebijakan sosial dan politik. Pada sisi sosial, masih banyak orangyang takut mendengar kata nuklir.

”Ada stigma terkait dengan bom atom, kecelakaan Chernobyl dan Fukushima. Isu tersebut sebenarnya bisa terpatahkan dengan mudah. Kuncinya sosialisasi dan edukasi,” tandasnya.

Politik menjadi pangkal utama dari berhentinya implementasi perencanaan pembangunan PLTN sejak lama. Keputusan Go Nuclear untuk PLTN harus dari pemerintah. Tanpa komitmen yang kuat dari pemerintah, susah untuk mengembangkan energi nuklir di Indonesia.

”Belum lagi adanya kebijakan bauran energi, di mana energi fosil saat ini masih mendominasi, bahkan sampai tahun 2030-an. Kondisi tersebut semakin mempersulit pengembangan energi nuklir,” ujar Agung.

Dirinya yakin tawaran dari Putin kepada Presiden Jokowi lebih ke arah pengembangan energi nuklir untuk listrik. Putin sempat menyebut Rosatom yang merupakan vendor PLTN. Menurutnya ruang lingkup kerja sama seharusnya bisa diperluas seperti pengembangan teknologi akselerator yang saat ini juga banyak diperlukan, terutama untuk keperluan medis.

Selain itu, di bidang kedokteran nuklir dan radioterapi juga menarik untuk dikembangkan dalam bentuk kerjasama dengan Rusia. Yang jelas, kerja sama tidak berupa pengembangan senjata nuklir. Indonesia telah meratifikasi traktat non-proliferasi senjata nuklir.

Related posts

Leave a Reply