Konflik Rusia-Ukraina, AS dan Sekutunya Harus Dengar Suara Putin

Muhadi Sugiono / www.ugm.ac.id

JOGJA, SMJogja.com – Pengamat politik internasional UGM, Muhadi Sugiono MA mengatakan tidak optimistis dengan kemungkinan Indonesia menjadi penengah konflik Rusia-Ukraina. Menurutnya yang utama yakni AS dan sekutunya mau mendengar keinginan Rusia.

”Ukraina ini menjadi benteng pertahanan Rusia yang terakhir sehingga Putin tidak menginginkan negara tersebut bergabung dengan NATO. Ini masalah utamanya,” tandas Muhadi yang sering terlibat dalam kampanye perdamaian di dunia.

Ia menilai kunci utama adalah AS yang sebenarnya tidak begitu berkepentingan dengan Ukraina. Wilayah itu bukan menjadi prioritas negara Paman Sam. Ketika AS mau memberi jaminan bahwa tidak akan mengajak atau memberi lampu hijau Ukraina masuk Nato, Rusia akan sangat mempertimbangkan menarik pasukannya.

Konflik tersebut, Muhadi menjelaskan, mempunyai sejarah panjang. Rusia sebagai bagian sejarah Uni Soviet yang sudah pecah menjadi banyak negara, merasa dikepung. Ia sebenarnya memerlukan negara-negara yang netral di kawasan tersebut supaya posisinya aman. Namun, sebagian sudah bergabung dengan NATO atau menjadi ”sekutu” AS.

Read More

”Dulu, NATO pernah menyatakan tidak akan melakukan ekspansi ke Eropa Timur tetapi kenyataan tidak begitu. Putin tidak menginginkan ekspansi terus berlangsung sehingga ia harus berusaha menahan laju tersebut,” ungkapnya.

Perdamaian sulit terjadi ketika AS dan sekutunya tidak mau berempati mendengarkan keinginan Rusia yang merasa sudah dikepung. Sebenarnya AS pernah mempunyai pengalaman yang sama pada kasus Teluk Babi di Kuba pada tahun 1960-1961. Pemerintah AS harusnya berkaca dari peristiwa tersebut dan mau mendengar suara Presiden Rusia Vladimir Putin.

Related posts

Leave a Reply