Kongres Kebudayan Jawa III, ”Kabudayan Jawa Anjayeng Bawana”

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan), Dian Lakshmi Pratiwi SS MA / Agung PW

JOGJA, SMJogja.com – Kongres Kebudayaan Jawa III berlangsung di Yogyakarta, 14-17 November 2022. Kegiatan tersebut merupakan program besar Pemerintah DIY melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan). Sekitar seribu peserta hadir secara luring dan daring yang mengambil tema ”Kabudayan Jawa Anjayeng Bawana”.

”Tema tersebut dipilih agar kebudayaan Jawa bisa mendunia. Masyarakat Jawa tersebar di seluruh dunia dan mereka tidak pernah melupakan budaya asalnya. Buktinya, banyak peserta kongres yang datang dari sejumlah negara dan mengikuti secara daring dari negara tempat mereka tinggal sekarang,” papar Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi SS MA.

Ia menjelaskan, kebudayaan Jawa dapat menjadi kekuatan besar yang dikenal di berbagai penjuru lokal, nasional maupun internasional. Ketika itu dapat berkembang secara bersama-sama, dapat menjadi kekuatan dan gerakan perubahan dunia ke arah yang lebih baik.

Jawa, sebagai salah satu kata yang merujuk pada bahasa, suku bangsa, dan adat istiadat tertentu, menjadi salah satu bahasan yang tak kalah habisnya. Kebudayaan Jawa telah mewarnai pembahasan kebudayaan di Indonesia sejak sebelum kemerdekaan. Sebagai salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia dan tersebar di berbagai penjuru dunia, Jawa memiliki kebudayaan yang senantiasa berkembang dan bisa menjadi akar perkembangan budaya universal.

Read More

Dua Tahapan

Kongres Kebudayaan Jawa III di Yogyakarta berlangsung melalui dua tahapan yaitu Pra Kongres pada 11 – 13 Oktober 2022 dan Kongres pada 14 – 17 November 2022, di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center. Pelaksanaan selama empat hari dengan sistem hybrid, luring dan daring.

”Kegiatan ini sebagai wadah dan sarana pembahasan masalah kebudayaan Jawa di tengah modernisasi. Budaya Jawa hingga saat ini masih terus berkembang dan menjadi landasan hidup yang membuktikan kebudayaan Jawa dinamis,” tandas Dian.

Kongres Kebudayaan Jawa III melibatkan peserta dari berbagai unsur. Ada delegasi utama dari Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Timur. Jumlah partisipan secara luring lebih 400 orang dan daring lebih 500 orang.

Dian menambahkan pembagian komisi – komisi sidang pada Kongres Kebudayaan Jawa III berdasarkan pada pengelompokan isu – isu yang berkembang. Selain itu juga tantangan dan kontribusi kebudayaan Jawa kepada dunia. Dari situ terbentuk Komisi I (Saptagati), Komisi II (Inovasi) dan Komisi III (Difusi).

Kongres Kebudayaan Jawa pernah berlangsung pada 5-7 Juli 1918 di Surakarta. Batavia sebagai penggagas menghendaki Kongres Bahasa Jawa namun Pangeran Prangwadono, yang selanjutnya disebut Mangkunegara VII, menolak dan menghendaki pembahasan lebih luas dan menyeluruh.

Tercetuslah Congres voor Javaansche Cultuur Ontwikkeling. Kongres membahas pengembangan kebudayaan Jawa. Meskipun awalnya Batavia tidak setuju, namun karena keteguhan Mangkunegara VII maka KKJ dapat terlaksana. Kongres berikutnya berlangsung pada 21-23 November 2018 di Surabaya.

Related posts

Leave a Reply