Lebih Ramah Lingkungan, Limbah Kayu Merbau Papua untuk Pewarna Alami

Dialog pemanfaatan pewarna alami di UGM / ist

JOGJA, SMJogja.com – Sebagian besar perajin dan industri tekstil di Indonesia masih menggunakan pewarna sintetis pada proses produksi tekstil. Bahkan bahan baku pewarna tersebut impor dengan kapasitas besar dan bernilai tinggi. Padahal pemerintah telah melarang pewarna sintetis sejak 1 Juni 1996 karena pewarna sintetis bersifat karsinogen yang sangat berbahaya bagi penggunanya dan lingkungan.

Peneliti pewarna alami UGM, Prof Dr Edia Rahayuningsih MS mengungkapkan awal abad ke-20, Indonesia merupakan penguasa pasar pewarna alami biru indigo terbesar. Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah sebagai bahan baku pewarna alami. Sayangnya potensi tersebut belum termanfaatkan dengan baik.

”Hampir semua daerah memiliki budaya penggunaan pewarna alami dan sumber daya alam sebagai bahan baku pewarna alami. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya pewarna alami secara turun temurun,” kata Edia. Ia menyampaikan itu usai peresmian mini plant pewarna alami di ruang multimedia, Gedung Pusat UGM.

Ia bersama enam peneliti dan tiga peneliti dari mitra industri serta 25 mahasiwa mengembangkan industri pemanfaatan sumber daya alam pewarna alami. Tim tergabung dalam kelompok riset Indonesia Natural Dye Institute Universitas Gadjah Mada (INDI-UGM). Mereka melakukan program hilirisasi produk purwarupa atau teknologi bersama.

Read More

Kampus menggandeng mitra CV Karui Jayapura membangun miniplant produksi serbuk pewarna alami dari limbah industri penggergajian kayu Merbau. Lokasinya berada di Jayapura Papua. Limbah Merbau sangat potensial sebagai sumber bahan baku industri pewarna alami.

Produk Samping

Edia yang juga Ketua Tim INDI menjelaskan produk samping dan limbah hasil hutan Papua bisa mencapai 20-40 persen dari total massa pohon. Pemanfaatannya belum optimal. Masyarakat atau industri hanya membuang atau membakarnya.

”Melalui pendanaan dari Kemendikbud, kami telah mengirim alat untuk miniplant yang bersumber dari Program Dana Padanan atau Matching Fund ke Papua,” imbuhnya.

Ia berharap adanya miniplant produk serbuk pewarna alami pewarna alami bisa berkembang ke tahap komersialisasi. Tentunya dengan dukungan pemerintah, industri dan komunitas. Kelak para perajin batik, industri tekstil dapat menggunakannya sehingga mendukung program SDGs.

Selain dari bahan baku Merbau di Papua, ada bahan lain yakni tanaman indigofera, limbah kakao, limbah sawit, dan limbah kulit kayu mangrove.

Direktur CV Karui Jayapura, Alexander Sorondanya SHut angat beruntung bekerja sama dengan para peneliti UGM. Ia tidak menyangka jika limbah kayu Merbau ternyata sangat bermanfaat bagi industri tekstil.

Related posts

Leave a Reply