Melihat “Kemolekan” Kota Magelang Untuk Investasi Sport Tourism

Pandemi Covid-19 menghentikan banyak aktivitas pariwisata, olahraga, maupun wisata olahraga (sport tourism) yang merupakan perpaduan di antara kedua sektor tersebut. Ketika berbagai aktivitas mulai kembali aktif di tengah melandainya kasus Covid-19 saat ini, tren sport tourism di masyarakat pun semakin meningkat.

Terlebih adanya pergeseran paradigma yang mempengaruhi dinamika pariwisata di Indonesia, menyebabkan banyak masyarakat memilih menikmati wisata alam sambil berolahraga, atau sekedar menyaksikan gelaran olahraga sembari berekreasi.

Amalia Ila Diastri
Amalia Ila Diastri/penulis

Konsep sport tourism adalah memadukan antara pariwisata dan olahraga. Menurut United Nations World Tourism Organizations (UNWTO), sport tourism merupakan sektor wisata yang pertumbuhannya paling cepat di era tahun “to win back”. Menariknya, saat ini Indonesia dianggap sebagai ikon sport tourism dunia berkat keindahan alam dan pesona budayanya.

Seperti diketahui, dampak dari pandemi telah menyebabkan ekonomi nasional bahkan global mengalami pelambatan. Resesi ini juga berimplikasi terhadap kemajuan roda perekonomian di daerah, tak terkecuali Kota Magelang.

Read More

Tercatat pada kuartal pertama tahun 2020, Kota Magelang menunjukkan kontraksi perekonomian sehingga menyebabkan resesi hingga -2,45 persen. Meskipun angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah sebesar -2,65 persen, namun masyarakat Kota Magelang sangat merasakan dampak negatif ini, terutama bagi kalangan menengah ke bawah.

Dengan wilayah yang hanya 18,54 kilometer persegi dan minim potensi Sumber Daya Alam (SDA), satu-satunya jalan untuk meminimalisir dampak negatif resesi adalah dengan mengoptimalkan potensi jasa.

Hal ini pula yang terus dilakukan secara konsisten oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang, di mana arah kebijakan pembangunan dititikberatkan pada sektor jasa. Bahkan, saking seriusnya pemerintah memfokuskan pembangunan sektor jasa, maka tak heran masyarakat Kota Magelang pun lebih familiar dengan slogan Kota Jasa dibanding Kota Harapan, maupun Kota Sejuta Bunga.

Sektor jasa yang terus dibangun pun meliputi banyak aspek, seperti jasa pariwisata, jasa perdagangan, jasa pelayanan kesehatan, dan jasa pendidikan. Slogan Kota Jasa ini selain realistis, juga menggambarkan posisi strategis Kota Magelang yang berada pada simpul jalur ekonomi dan wisata regional, dipadukan dengan penataan fisik wajah kota.

Diyakini hal tersebut akan menjadi potensi yang dominan dalam mempertegas fungsi Kota Jasa di Kota Magelang, sehingga ini menjadi tak sekadar slogan, namun lebih tepatnya sebagai cita-cita dan komitmen bersama.

Khusus jasa pariwisata, Pemkot Magelang memang sedang menggarap serius konsep sport tourism. Terlebih lagi, kota kecil ini telah memiliki venue olahraga bertaraf nasional dan internasional dengan panorama alam yang luar biasa, sebagai modal dasar. Kemudian modal pendukungnya adalah penanaman modal (investasi). Kedua modal ini digadang bisa menjadi “driving force” setiap proses pembangunan ekonomi, dan mampu menggerakkan aspek-aspek pembangunan lainnya.

Selain itu, melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Magelang sebagai Perangkat Daerah yang membantu Wali Kota melaksanakan urusan pemerintahan bidang penanaman modal, telah disusun beberapa kebijakan pro-investasi sebagai trigger sekaligus magnet bagi para investor dalam berusaha di Kota Magelang.

Salah satunya adalah dibukanya Mal Pelayanan Publik (MPP) yang berada di Gedung Kyai Sepanjang Lantai 2, Jl. Kartini, Kecamatan Magelang Tengah. Ini merupakan salah satu fasilitas yang disuguhkan sebagai modal awal “daya pikat” calon investor di Kota Magelang, di mana dengan konsep “one stop service” nya, MPP mengintegrasikan berbagai pelayanan yang menjadi kewenangan daerah ke dalam satu lokasi.

Selain itu, penyediaan pelayanan perizinan berusaha, pelayanan nonperizinan, pelayanan pengaduan masyarakat, pelayanan informasi potensi investasi dan peluang usaha, fasilitasi kerja sama penanaman modal, sampai dengan fasilitasi pengawasan aktivitas penanaman modal yang profesional dan akuntabel, dipastikan akan mendorong perkembangan investasi di Kota Magelang.

Fasilitas lain yang memperkuat Kota Magelang ramah investasi adalah adanya kebijakan pemberian insentif dan kemudahan bagi para investor. Ditetapkannya Peraturan Walikota (Perwal) Magelang Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal menjadi bukti komitmen pemerintah dalam memberikan subsidi bagi siapapun yang menanamkan modalnya di Kota Magelang.

Kemudian, upaya deregulasi beberapa produk hukum daerah terkait penanaman modal yang dilakukan untuk menyesuaikan aktivitas penanaman modal secara komprehensif, implementatif, dan selaras dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Melalui kelengkapan fasilitas dan kebijakan pro-investasi ini, lahirlah keyakinan kuat bahwa, di masa depan Kota Magelang akan sukses menjelma menjadi daerah yang strategis investasi. Terlebih dengan adanya berbagai kebijakan pengembangan wilayah dalam skala nasional, seperti Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur, pembangunan exit tol Bawen-Yogyakarta yang melalui wilayah Kecamatan Magelang Selatan, hingga rencana reaktivasi jalur kereta api Ambarawa-Yogyakarta yang salah satu stasiunnya akan berlokasi di Kota Magelang.

Untuk memberikan peluang bagi para investor dengan adanya proyek nasional tersebut, Pemkot Magelang bahkan telah merubah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), di mana di beberapa kawasan diberi peluang untuk pengembangan sektor jasa.

Upaya lainnya adalah membuka keran investasi melalui sarana promosi, baik skala regional, nasional, bahkan internasional. Hal ini tak lain adalah agar para calon investor mengetahui bahwa, terdapat beberapa kawasan strategis di Kota Magelang yang telah disiapkan untuk investasi, khususnya sport tourism.

Beberapa kawasan yang saat ini disiapkan untuk investasi antara lain : kawasan Sidotopo, Magelang Utara; Kawasan Sport Center Gelora Sanden, Magelang Utara; dan Kebun Raya Gunung Tidar.

Kawasan Sidotopo berada di Jalan A. Yani Kota Magelang, secara eksisting saat ini masih berupa tanah kosong yang pemanfaatannya kurang optimal. Memiliki bentuk menyerupai persegi panjang dengan luas tapak keseluruhan sekitar 26.500 meter persegi. Berbagai alternatif yang paling memungkinkan dan optimal untuk dikembangkan di kawasan ini adalah bisnis properti dengan alternatif pengembangan seperti mal, hotel, ataupun keduanya (mal dan hotel).

Lalu, kawasan Sport Center Gelora Sanden di Kelurahan Kramat Selatan, Magelang Utara. Di area tersebut memiliki fasilitas olahraga seperti stadion bertaraf nasional, yaitu Stadion Moch. Soebroto, yang kerap dijadikan venue kasta liga tertinggi sepakbola di Indonesia. Bahkan selama dua musim, stadion tersebut pernah dijadikan markas tim liga 1, PSIS Semarang.

Selain itu, terdapat kolam renang prestasi berstandar internasional, lapangan tenis indoor dan outdoor, gelanggang olahraga (GOR), hingga gelaran UMKM “sunday morning” (Sunmor) yang rencananya akan rutin digelar setelah pandemi Covid-19 mulai melandai.

Pemanfaatan konsep olahraga menyenangkan atau wisata olahraga ini jadi peluang emas, untuk menarik perhatian calon investor. Keramaian akan selalu hadir di komplek Gelora Sanden ini, baik secara rutin maupun tentatif. Jika di akhir pekan, masyarakat menjadikan kawasan itu sebagai titik keramaian untuk berolahraga menyenangkan lewat Sunmor, di periode tertentu masyarakat juga bisa menyaksikan berbagai pertandingan olahraga seperti sepakbola, voli, tenis, balap motor, renang, hingga loncat indah.

Tidak hanya itu, dukungan pemandangan spektakuler Gelora Sanden juga menjadi pertimbangan para investor untuk mengembangkan konsep sport tourism. Di sebelah barat terbentang panorama alamiah Sungai Progo dengan latar belakang Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Kemudian di sebelah selatan berupa bentukan artifisial saluran irigasi dan area persawahan penduduk. Lalu di sebelah utara dan timur berupa bentukan artifisial saluran irigasi Kalibening.

Selanjutnya, Kebun Raya Gunung Tidar yang ini cukup populer dengan wisata religi, terus dikembangkan menjadi kawasan wisata alam, panorama, hingga wisata olahraga. Jalur pendakian bukit setinggi 502 meter dari permukaan laut itu telah dibuat sedemikian rupa, sebagai fasilitas pendakian jarak dekat. Tidak sedikit, masyarakat memanfaatkan pendakian Gunung Tidar untuk berlatih sebelum mendaki gunung-gunung yang lebih tinggi.

Sangat realistis bila memanfaatkan konsep sport tourism ini di Kebun Raya Gunung Tidar. Apalagi, di puncak Tidar juga teradapat Monumen Tanah Air Satu Bangsa. Sebuah monumen yang menjadi penanda bahwa Hari Olahraga Nasional (Haornas) tahun 2017 lalu pernah diadakan di Kota Magelang. Hingga saat ini, hanya ada dua tempat yang merupakan kumpulan tanah dan air dari penjuru Indonesia, yaitu Ibu Kota Nusantara (IKN) dan di Monumen Tanah Air Satu Bangsa, Gunung Tidar.

*) Amalia Ila Diastri (Analis Kebijakan Ahli Muda DPMPTSP Kota Magelang)

Related posts

Leave a Reply