Meneguhkan Kembali Prinsip Bagi Hasil Bank Syariah 

SLEMAN, SMJogja.com – Islam  membangun sistem keuangan tanpa konsep riba atau suku bunga. Lembaga keuangan syariah terdiri dari perbankan syariah, sukuk,  reksa dana syariah, takaful dan lembaga keuangan Islam lainnya. 

Total asset tahun 2020 sebesar US$ 3.374 dimana perbankan syariah merupakan sektor terbesar dari sektor keuangan syariah (US$ 2.349 miliar). Bank syariah di Indonesia menduduki peringkat 10 besar dengan total aset US$ 39 miliar.

Pembiayaan bank Syariah terdiri dari skema bagi hasil dan skema bukan bagi hasil. Pembiayaan bagi hasil  terdiri dari Mudharabah dan Musyarakah. Pembiayaan non bagi hasil terdiri dari Murabahah, Qardh, Istisna, Ijarah, dan Salam. Penghimpunan dana bank Syariah terdiri tabungan dan deposito dengan menggunakan konsep akad Wadiah dan Mudharabah. 

Read More

“Sebagai pemain paling akhir memasuki dunia perbankan di Indonesia, kinerja keuangan perbankan syariah sangat baik selama periode 2012-2021. Kecukupan modal (CAR) sebesar 16,29 persen, di atas batas ambang minimum sebesar 12 persen,” kata Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Prof Agus Widarjono saat pidato pengukuhan Guru Besar dalam rapat senat terbuka, Kamis (24/11).

Bank syariah telah berjalan selama lebih dari 25 tahun. Namun masih banyak kendala dan tantangan yang dihadapi antara lain adanya profit-driven consumers, rendahnya efisiensi dan mahalnya produk bank syariah, rendahnya bagi hasil, dan rendahnya porsi pembiayaan bagi hasil. Akibatnya, bank syariah belum bisa bersaing dengan bank konvensional dalam menghimpun dana masyarakat dan memberi pembiayaan kepada para pelaku usaha. 

Agar bank Syariah bisa bersaing, menurut dia, perlu adanya skala prioritas. Prioritas utama adalah mengembalikan konsep bisnis bank syariah ke core business yaitu meningkatkan porsi pembiayaan bagi hasil melalui pembiayaan mudharabah dan musyarakah. “Ada beberapa kelebihan model pembiayaan bagi hasil. Pertama, pembiayaan bagi hasil merupakan akad yang adil karena kerugian atau keuntungan dibagi bersama, memberikan insentif yang lebih kuat bagi pengusaha dalam menjalankan usahanya. Kedua, pembiayaan bagi hasil akan menghasilkan kestabilan bank syariah,” terangnya.

Kelebihan lainnya adalah adanya fleksibilitas dalam pembayaran kembali pembiayaan yang diberikan yang cocok untuk usaha UMKM sebagai mayoritas jenis usaha di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan pembiayaan musyarakah akan menurunkan resiko pembiayaan, pembiayaan bagi hasil meningkatkan keuntungan dan menjadikan bank syariah mampu bertahan dan berkembang ketika krisis ekonomi terjadi.

Agenda besar kedua adalah peingakatan size bank Syariah. Sebagai pemain terbaru dalam sistem perbankan ganda, bank syariah belum mencapai skala ekonominya. Oleh karena itu, bank syariah menghadapi biaya operasional yang tinggi sehingga belum bisa memberikan  harga rendah untuk produknya. Rata-rata aset bank syariah di Indonesia sebesar Rp 21,31 triliun sehingga belum memenuhi syarat minimal mencapai skala ekonomi.

Related posts

Leave a Reply