Ocula Bantu Petani Ikan, Efisien untuk Budidaya Ikan Air Tawar

Ocula, alat untuk budidaya ikan air tawar karya mahasiswa UNY / dok UNY

JOGJA, SMJogja.com – Tiongkok, India dan Indonesia merupakan tiga negara penghasil ikan terbesar di dunia. Namun menurut Balitbang Kementrian Kelautan dan Perikanan, konsumsi ikan perkapita di Indonesia baru mencapai 25,77 kilogram. Angka ini tergolong rendah dibandingkan dengan negara lain.

Salah satu penyebab rendahnya konsumsi ikan yakni harga yang masih cukup tinggi sehingga sebagian orang mengalihkan untuk konsumsi lainnya. Harga tinggi karena kurang efisiennya teknologi dan motode budidaya ikan air tawar yang saat ini digunakan petani ikan.

”Sebagian besar budidaya perikanan di Indonesia masih menggunakan metode tradisional. Metode tersebut memiliki beberapa kelemahan, antara lain ketergantungan pada kemampuan pembudidaya. Apabila pembudidaya tidak memiliki kemampuan yang memadai kemungkinan gagal panen akan meningkat,” ungkap mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Danang Pradana.

Ia bersama Qurotunnisa Nur Aini dan Luthfan Ihtisyamuddin berusaha mencari solusi dengan mengembangkan model budidaya ikan air tawar. Menurut mereka, metode budidaya tradisonal sangat bergantung pada kondisi cuaca dan lingkungan.

Read More

Selain itu kualitas air juga menjadi faktor penentu kesuksesan budidaya ikan air tawar. Perlu ada terobosan yang dapat membuat proses pengelolaan budidaya ikan air tawar menjadi lebih efektif supaya permasalahan pengelolaan dapat teratasi dengan baik.

Tidak Maksimal

”Teknologi yang ada sekarang, baru tersedia semacam pemberi makan otomatis atau water system. Namun, alat tersebut terpisah sehingga efisiensi berjalan tidak maksimal,” ujar Danang.

Ia dan teman-temannya melakukan inovasi pengembangan produk alat pengelolaan kolam budidaya ikan air tawar terintegrasi Internet of Things (IoT) yang lebih kokoh dan efisien. Mereka merancang alat yang berfungsi mengefisienkan pengelolaan budidaya ikan air tawar secara otomatis yang disebut Ocula.

Ocula memiliki dua fungsi utama yakni manajemen kelola air kolam dan manajemen pakan ikan secara otomatis. Pada fitur water system, Ocula dilengkapi dengan aerator yang terdiri atas empat sensor, yakni sensor oksigen, suhu, Ph, dan kekeruhan air.

Semua sensor memungkinkan pengguna dapat membaca kondisi air kolam dan melakukan aksi secara otomatis melalui pengendali jara jauh yang terintegrasi Internet of Things. Fitus juga dilengkapi dengan pengaturan debit air yang memungkinkan pengguna Ocula melalukan automatic reaction ketika terjadi perubahan debit air.

”Pada manajemen pakan, Ocula memudahkan pengguna atau pembudidaya mengatur posisi pemberian pakan, jarak pelontaran pakan, volume pakan yang disesuaikan dengan umur ikan dan juga jadwal pemberian pakan,” imbuh Aini.

Jarak Jauh

Sistem yang mereka kembangkan berbasis micro controller yang terintegrasi dengan Internet of Things. Pengguna dapat mengtendalikan secara jarak jauh. Tujuannya, lebih mengefisienkan pengelolaan budidaya air tawar sehingga produktivitas dapat optimal tanpa harus melakukan pengecekan dan perawatan secara manual.

Pengendalian alat tersebut bisa jarak jauh melalui aplikasi Ocula Assistant. Aplikasi juga dapat memberikan laporan selama sebulan setelah pemakaian. Adanya laporan bulanan membuat pengguna dapat memantau naik turunnya kondisi air dan dapat melakukan analisis penyebab serta solusinya. Sistem akan membaca kondisi di kolam, selanjutnya mengirimkan data kondisi kolam berbentuk notifikasi kepada pengguna.

”Keunggulan produk ini, pertama terdapat pada sistem detektor kondisi air yang dapat dipantau secara jarak jauh melalui Internet of Things. Kedua, setelah identifikasi kondisi, Ocula dapat menyesuaikan kondisi kolam sesuai dengan kebutuhan ikan,” tutur Luthfan.

Ia menambahkan dalam pengaplikasiannya, empat sensor dalam Ocula dapat digabungkan dengan aerator yang didesain khusus sehingga lebih efisien dalam penataan tempat. Aerator juga dapat mengendalikan pH air kolam dengan cara menambahkan senyawa kimia alami ke dalam kolam. Bahkan Aerator dapat mengendalikan suhu. Apabila suhu di atas atau di bawah standarisasi yang sudah ditetapkan, alat akan mengendalikan secara otomatis.

Karya mereka berhasil meraih pendanaan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui Program Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) Perguruan Tinggi. Ini sebagai upaya untuk menumbuhkembangkan calon wirausaha inovatif dari kampus.

Related posts

Leave a Reply