Pecinan Magelang, Lain Dulu Lain Sekarang

Kelenteng Liong Hok Bio berdiri megah di kawasan Pecinan Kota Magelang, seolah menyambut kedatangan pengunjung yang melintas di Jalan Pemuda / Asef Amani

PERIBAHASA Melayu “Lain Hulu Lain Parang, Lain Dulu Lain Sekarang” rasanya cocok dengan kondisi kawasan pusat perekonomian Pecinan di Kota Magelang. Area yang membentang di Jalan Pemuda Magelang sepanjang kurang lebih 800 meter ini sudah mengalami dinamika panjang yang menarik untuk dipelajari.

Anda bisa menyaksikan kondisi Pecinan saat ini dengan deretan pertokoan yang berjejer rapi di sebelah kanan dan kiri jalan. Di ujung utara jalan ditandai dengan berdirinya gerbang setinggi 9 meter dan lebar 10 meter serta bangunan ikonik di pojok baratnya, yakni TITD (Kelenteng) Liong Hok Bio. Adapun di sisi selatan mentok di perempatan Pasar Rejowinangun dengan tugu Adipura di tengahnya.

Kawasan yang berdekatan persis dengan alun-alun ini menyajikan aneka ragam barang dagangan, mulai dari pakaian, sandal, sepatu, jam tangan, peralatan rumah tangga, elektronik, kuliner, apotek, alat tulis, buku, telepon seluler, hingga sepeda dan emas. Kawasan ini pun dilengkapi trotoar cukup lebar sebagai jalur pedestrian untuk pejalan kaki, becak, dan sepeda.

Ciri Khas

Read More

Sebagai kawasan yang identik dengan etnis Tionghoa, Pecinan Magelang pun menampilkan ciri khasnya, seperti pemilik toko berasal dari warga Tionghoa. Kokoh dan Tacik pemilik toko kerap melayani sendiri para pembelinya, di samping juga karyawan yang mayoritas dari etnis lokal alias pribumi.

Meski sudah tak banyak, ciri khas lain dari kawasan Pecinan adalah bangunan dengan arsitektur khas China, seperti atap berbentuk pelana dan ekor burung sriti. Di Pecinan Magelang, ciri khas bangunan ini sudah langka ditemui.

Selain juga ciri khas lain, utamanya di momentum peringatan Tahun Baru Imlek, berupa ornamen lampion, gantungan kepang, hiasan sincia, dan lainnya yang menghiasi toko. Termasuk hiasan umbul-umbul yang terpasang di sepanjang pinggir jalan.

Meski masih menjadi pusat perekonomian, menurut Pemerhati Sejarah Kota Magelang, Bagus Priyana, Pecinan sekarang sudah mengalami dinamika yang sangat menarik. Suasana Pecinan dewasa ini sudah berubah dibanding 10-20 tahun lalu.

“Dari segi bangunan dan arsitektur sudah kehilangan rohnya. Ciri khasnya atap bangunan berbentuk pelana dan terdiri ekor burung sriti. Sekarang sudah susah mencari bangunan dengan ciri tersebut di Pecinan,” ujarnya.

Pelebaran Jalan

Pria yang aktif di Komunitas Kota Toea Magelang ini menjelaskan, era sekitar tahun 1960-1970 bangunan berciri khas Tionghoa begitu kental terlihat di Pecinan. Namun, tahun 1970an terjadi pelebaran jalan seiring tidak aktifnya jalur kereta api yang melintas di kawasan itu.

“Karena tidak aktif, maka pemerintah waktu itu melebarkan jalan raya dengan cara menutup jalur kereta api tersebut. Dampak lanjutannya, banyak fasad depan bangunan yang mencirikan khas Tionghoa tergusur untuk keperluan pelebaran jalan tersebut. Akhirnya hilang,” katanya.

Selain itu, perubahan juga terjadi dari sisi keramaian kawasan tersebut. Di era tahun 1990-an Pecinan masih sangat ramai dikunjungi orang, baik yang berjalan kaki maupun naik kendaraan. Apalagi, di era itu masih terdapat tempat hiburan bioskop yang menjadi daya tarik sendiri.

“Waktu itu masih banyak bioskop beroperasi, seperti Kresna, Magelang Theater (MT), Tidar Theater, dan Rahayu. Sayang, di tahun 1989 Bioskop Rahayu tutup, 1995 Bioskop Kresna tutup, lalu disusul MT dan Tidar Theater tutup tahun 2011. Sejak itu, Pecinan bukan lagi idola yang wajib dikunjungi,” paparnya.

Kampung Ngarakan

Menilik sejarah ke belakang, Bagus mengutarakan, sekitar tahun 1827-1830 etnis Tionghoa mulai masuk ke daratan Kota Magelang. Kala itu rombongan warga Tionghoa datang dan mendirikan rumah di kawasan Pancoran yang sekarang bernama Kampung Ngarakan, sisi barat Pecinan.

Rombongan ini datang dari daerah Kelangkang Jono, Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Di Purworejo mereka menetap cukup lama sebelum tahun 1827. Sejarahnya, mereka ini merupakan pelarian dari wilayah Batavia yang pada tahun 1740-1743 terjadi geger pecinan.

“Saat geger Pecinan itu banyak etnis Tionghoa yang melarikan diri ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Tengah, mereka lari ke wilayah Pantura dan ada kelompok yang masuk ke Surakarta. Di Surakarta terjadi geger Pecinan lagi dan mereka kabur ke Purworejo,” terangnya.

Dari Purworejo ke Magelang, kata Bagus, mereka terpecah jadi dua. Satu kelompok masuk ke Magelang dan satu lagi ke Parakan, Temanggung. Singkat kisah, mereka yang ke Magelang menetap di Kampung Ngarakan dengan mendirikan rumah dan tempat ibadah (kelenteng).

“Oleh Pemerintah Belanda waktu itu ditunjuk pimpinan di antara mereka yang pro-Belanda dengan jabatan Kapiten bernama Kapiten Be Cok Lok dari Surakarta. Kapiten ini diberi kuasa mendirikan rumah gadai dan rumah candu untuk memutar roda ekonomi,” tuturnya.

Kapiten Be Cok Lok, imbuh Bagus, menjadi orang terkaya waktu itu dengan memiliki banyak tanah. Salah satunya di ujung utara Jalan Pemuda yang kini berdiri Kelenteng Liong Hok Bio. Sebidang tanah itu dihibahkan ke masyarakat Tionghoa dan didirikanlah Kelenteng Liong Hok Bio sekitar tahun 1864.

Kawasan Pecinan

“Nah, terbentuknya kawasan Pecinan ini, karena ada andil pemerintah Belanda yang membuat aturan Wijkenstelsel, artinya aturan yang menciptakan pemukiman etnis Tionghoa di sejumlah kota besar di Hindia Belanda. Tujuannya mencegah interaksi pribumi dengan etnis Tionghoa,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, Pecinan di Magelang ditempatkan tidak jauh dari pusat kekuasaan Belanda yang ada di kawasan Alun-alun. Posisi Pecinan sangat strategis di jantung ekonomi kota. Letaknya pun di tengah di antara pusat ekonomi Poncol yang dihuni bangsa Eropa (sisi utara) dan di sisi selatan ada Rejowinangun yang dihuni Pribumi.

“Karena di tengah, kawasan Pecinan jadi primadona waktu itu. Seiring perjalanan waktu, terjadi akulturasi budaya antara Tionghoa, Eropa, dan Pribumi. Tidak hanya budaya, tapi juga sampai pada akulturasi kuliner, salah satunya Kupat Tahu, kuliner khas Magelang,” imbuhnya.

Perubahan yang terjadi di Pecinan juga diakui oleh Paul Chandra Wesi Aji (78), sesepuh warga etnis Tionghoa yang berwirausaha di Pecinan. Sebelum tahun 2000, Pecinan menjadi primadona bagi masyarakat yang ingin jalan-jalan dan belanja, sekaligus hiburan.

“Waktu masih muda, saya sering jalan dan belanja di Pecinan. Sampai akhirnya saya membuka toko olahraga di sini sekitar tahun 2013. Waktu itu masih ramai, tapi sekarang tak seramai dulu. Apalagi sempat dihantam badai Covid-19, Pecinan sangat memprihatinkan,” ucapnya.

Bapak yang juga Ketua Yayasan TITD Liong Hok Bio ini mengaku, kawasan Pecinan masih didominasi oleh etnis Tionghoa. Mereka memiliki usaha yang beragam dengan karyawan banyak dari warga lokal Magelang dan sekitarnya.

“Ciri khas bangunan gaya China memang sudah langka, karena perubahan jaman yang lebih menampilkan modernitas. Meski begitu, kami tetap berharap Pecinan menjadi pusat perekonomian di Kota Magelang yang banyak dikunjungi baik untuk belanja maupun sekadar jalan-jalan,” imbuhnya.

Related posts

Leave a Reply