Pendidikan DIY Ketinggalan 6 Bulan, Pembelajaran Tatap Muka Harus Jalan

Anggota DPRD DIY, Rany Widayati SE MM / Agung PW

JOGJA, SMJogja.com – Proses pembelajaran terganggu lagi akibat meningkatnya kasus Covid-19. Banyak sekolah yang meliburkan kegiatan tatap muka karena ada siswa dan guru yang terpapar corona. Ini menjadi keprihatinan bagi masyarakat DIY yang terkenal sebagai Kota Pendidikan. Kendati demikian, proses pendidikan harus tetap jalan tentu dengan mematuhi protokol kesehatan secara ketat.

”Mau tak mau pembelajaran tatap muka harus jalan terus, jangan sampai dihentikan. Jogja sudah ketinggalan enam bulan, kasihan anak-anak karena enam karena untuk mengejar ketinggalan sangat berat,” ujar anggota DPRD DIY yang membawahi bidang pendidikan, Rany Widayati SE MM.

Ia mengakui situasi memang tidak baik karena kasus Covid-19 memperlihatkan peningkatan lagi. Ia menyarankan proses pembelajaran tetap berjalan dengan strategi khusus seperti yang sudah terjadi yakni membagi siswa ke dalam beberapa kelas. Siswa yang masuk hanya boleh 50 persen, bergantian dengan siswa lainnya.

Tak hanya di tingkat sekolah, pada perguruan tinggi juga sama saja. Ia minta pembelajaran tatap muka juga berjalan dengan skema pembagian kelas serta penerapan protokol kesehatan. Salah satu kampus yang sudah mulai melakukan, UGM. Kampus tersebut melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Bauran tatap muka daring dan luring bagi seluruh mahasiswa mulai semester ini.

Read More

Utamakan Keselamatan

Kepala Pusat Inovasi Kebijakan Akademik (PIKA) UGM, Dr Hatma Suryatmojo SHut mengatakan bahwa aspek kesehatan dan keselamatan menjadi prioritas utama. Penyelenggaraan pembelajaran tatap muka dalam KBM Bauran mengutamakan keselamatan sivitas UGM dan masyarakat sekitar serta menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Ia mengimbau mahasiswa tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan tidak hanya di kampus namun di manapun berada. Dengan begitu dapat mendukung kegiatan pembelajaran tatap muka luring di kampus sekaligus memutus mata rantai penularan Covid-19 di masyarakat.

”UGM akan selalu memantau perkembangan, mengevaluasi dan membuat kebijakan-kebijakan strategis untuk mengutamakan keselamatan dan kesehatan warga UGM serta lingkungan sekitar,” jelasnya.

Sebelum mengikuti pembelajaran tatap muka di kampus, UGM telah meminta mahasiswa untuk memenuhi persyaratan dasar. Beberapa di antaranya izin dari orang tua bagi mahasiswa dengan umur kurang dari 18 tahun, pernyataan dalam kondisi sehat yang dapat dikuatkan dengan surat keterangan sehat dari unit Kesehatan Puskesmas atau Gadjah Mada Medical Center (GMC), dan telah mendapatkan vaksinasi Covid-19 minimal vaksin pertama.

Related posts

Leave a Reply