Peninggalan Panembahan Bodho, Takjil Bubur Lodeh Bertahan Hingga Sekarang

Warga menyiapkan takjil bubur sayur lodeh / Agung PW

JOGJA, SMJogja.com – Berbagai tradisi leluhur muncul kembali saat Ramadan. Salah satunya takjil bubur sayur lodeh. Tradisi yang sudah berjalan ratusan tahun ini berlangsung di Masjid Sabilurrosyad Kauman,
Wijirejo, Pandak, Bantul.

Tokoh warga, Haryadi menuturkan takjil bubur sayur lodeh sudah ada sejak abad XVI, sekitar tahun 1570an. Menurut kabar yang beredar, tradisi tersebut merupakan warisan salah satu murid Sunan Kalijaga yakni Raden Trenggono atau nama akrabnya Panembahan Bodho.

”Beliau merupakan Adipati Terung ketiga dan memilih menjadi murid Sunan Kalijaga untuk menyiarkan agama Islam. Nama akrabnya, Panembahan Bodho, artinya bodoh, karena memilih meninggalkan istana dan hidup di masyarakat biasa dan menolak bergelimang harta,” paparnya.

Sejak penyebaran Islam kala itu, ia dan warga biasa makan bersama dengan medu bubur sayur lodeh setiap Ramadan. Kebiasaan sebagai ajang silaturahmi tersebut terus berjalan hingga sekarang dan menjadi kekayaan lokal.

Read More

Makna Bubur

Menurut Haryadi ada tiga makna yang terkandung dalam tradisi takjil bubur sayur lodeh di wilayahnya. Ia menjelaskan pada intinya ajaran Islam diajarkan dengan cara yang baik, penuh kelembutan, bukan dengan kekerasan.

Makna berikutnya, warga mendapat falsasah dan nilai-nilai Islam sebelum menyantap takjil. Ketiga, ajaran Islam harus menyatu dengan masyarakat, tanpa memandang status sosial, ekonomi, dan lainnya. Semua orang sama di hadapan Tuhan.

Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung sempat membuat kebiasaan takjil bubur kodeh kosong. Warga menyadari bahaya wabah virus corona sehingga menghentikan kegiatan yang mengundang orang dalam jumlah banyak. Kini situasi sudah mulai membaik dan masyarakat setempat kembali menjalankan tradisi leluhur.

”Meski sempat berhenti akibat pandemi, kini kami mulai menggalakkan lagi. Kami melakukannya tentu dengan protokol kesehatan sehingga semua orang yang hadir di sini merasa nyaman,” ujar Haryadi.

Sebenarnya, tahun lalu juga sudah mulai ada tetapi warga sangat membatasi yang datang. Biasanya sehari mencapai 300 prosi namun karena pandemi, warga hanya menyediakan 100 porsi. Mereka tidak ingin terjadi kerumunan sehingga ada pembatasan secara ketat.

Related posts

Leave a Reply