Pentingnya Mitigasi Bencana Olahraga, Perlu Identifikasi Faktor Risiko Sejak Dini

dr Nur Subagyo HS / ist

JOGJA, SMJogja.com – Tragedi Kanjuruhan menjadi luka mendalam bagi bangsa Indonesia. Tercatat ada 131 orang meninggal dalam kerusuhan setelah pertandingan sepak bola Arema dan Persebaya. Ada data lain yang menyebut lebih banyak namun data resmi Pemerintah menyatakan 131 korban jiwa.

Jumlah korban yang meninggal ternyata ada anak-anak. Puluhan anak dan perempuan menjadi korban meninggal maupun luka-luka. Kondisi tersebut harus mendapat perhatian serius supaya tidak terulang pada semua cabang olahraga.

”Di sinilah pentingnya tindakan mitigasi bencana olahraga untuk meminimalkan risiko dampak bencana pada setiap cabang olahraga tak hanya sepak bola. Semua cabang tanpa kecuali,” tandas pemerhati olahraga yang juga dokter, Nur Subagyo HS.

Ia menggagas pentingnya mitigasi bencana bukan tanpa alasan. Sebenarnya, pada pertandingan-pertandingan sepak bola dan berbagai kasus yang pernah terjadi sudah terlihat adanya risiko bencana. Pada cabang olahraga yang menyedot jumlah penonton banyak, mencapai ribuan, di sanalah muncul risiko bencana.

Read More

Analisis Stadion

Beberapa hal perlu mendapat perhatian jauh hari sebelum olahraga berlangsung terutama yang menghadirkan banyak penonton, salah satunya sepak bola. Analisis aspek stadion, keamanan, kenyamanan dan keselamatan penonton perlu perhatian serius.

”Perhatikan akses pintu masuk dan keluar, kapasitas, area parkir dan faktor penunjang lainnya. Dari sisi penonton, perhatikan arus masuk penonton, jumlah, identifikasi penonton berisiko, misalnya anak-anak, perempuan dan usia lanjut,” tegas Nur Subagyo.

Pada aspek penonton, perlu pembagian supporter dan non supporter. Mereka yang memang pendukung fanatik klub atau idolanya harus terpisah dengan mereka yang bukan supporter tetapi ingin menyaksikan pertandingan secara langsung.

Ia menjelaskan lebih lanjut, penyelenggara perlu menerapkan identifikasi risiko dan manajeman rencana penanganan ketika terjadi bencana. Prioritasnya pada keamanan, kenyamanan penonton dan pemain.

”Jangan lupa, evaluasi risk management menyesuaikan dengan situasi selama pertandingan. Seperti pada kasus Kanjuruhan, ketika ada yang kalah, pikirkan kemungkinan akan terjadi risiko. Salah satu strategi sebenarnya sudah ada dalam SOP yakni segera buka dan amankan pintu keluar,” imbuh alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang tersebut.

Related posts

Leave a Reply