Pertama di Indonesia, UII Produksi Vaccine Carrier dengan Pendingin Aktif 

Izzati Muhimmah mendemonstrasikan pengoperasian alat VaccarBio disela peluncuran alat di gedung Fakultas Teknologi Industri UII, Kamis (19/1/2023) / Amelia Hapsari

SLEMAN, SMJogja.com – Tim peneliti UII menciptakan produk inovasi vaccine carrier atau perangkat pembawa vaksin. Berbeda dari produk serupa yang pernah ada, alat ini dilengkapi teknologi active cooling. Teknologi pendingin aktif ini menjadikan vaksin lebih tahan lama saat dibawa di perjalanan. Kapasitasnya pun sampai 2 liter atau setara penyuntikan vaksin untuk 600 orang. Produk yang diberi nama VaccarBio ini telah resmi diluncurkan pada Kamis (19/2) kemarin.

Berbarengan dengan acara peluncuran, diadakan pula pelatihan operasional alat bagi sejumlah tenaga kesehatan rumah sakit dan puskesmas yang selama ini menjadi mitra UII.

“Ada 100 unit alat yang kami bagikan untuk uji pasar. Kami ingin mendapatkan masukan sebelum rencana produksi massal,” kata Ketua Peneliti VaccarBio, Izzati Muhimmah disela peluncuran alat di gedung Fakultas Teknologi Industri UII, Kamis (19/1).

Dia menuturkan latar belakang pembuatan VaccarBio mengingat selama ini distribusi vaksin acap terkendala karena vaccine carrier hanya dilengkapi ice pack. Ketika ada penyuntikan di luar, es tersebut bisa mencair sehingga suhu vaksin beresiko meningkat. 

Read More

Sesuai aturan, suhu penyimpanan vaksin adalah 2-8 derajat Celcius. Selain itu, vaccine carrier umumnya juga tidak terdapat alat ukur dan pemantau suhu. Penelitian VaccarBio sendiri dimulai sejak tahun 2017. Tim melibatkan mahasiswa gabungan dari Fakultas Teknologi Industri, dan Kedokteran UII.

Riset ini ternyata menarik perhatian dari PT Bio Farma. Perusahaan BUMN itu menggelontorkan sejumlah dana untuk menyokong penelitian tersebut.

“Kami juga diberi kesempatan oleh Bio Farma untuk uji coba alat di chamber yang bisa mensimulasikan kondisi panas ekstrem di gurun maupun daerah bersalju. Setelah dua gelombang, prototipe kami akhirnya memenuhi kriteria yang diharapkan,” ujar Izzati yang merupakan dosen Teknik Informatika UII.

Said Syahputra, perwakilan tim dari Bio Farma menilai VaccarBio adalah suatu inovasi yang bagus. “Vaccine carrier dengan active cooling belum ada di Indonesia. Alat yang kami pakai masih berupa pasive cooling sehingga kerap repot harus bolak-balik mengambil vaksin kalau ada penyuntikan di luar,” ujarnya.

Menurutnya, inovasi ini turut menjawab tantangan yang banyak dihadapi pelaku dunia industri. Salah satunya adalah menjaga kualitas vaksin tetap baik. Namun akses infrastruktur yang kurang mendukung terutama di daerah pelosok, menjadikan proses distribusi vaksin rentan terhambat. 

“VaccarBio punya pendingin sendiri yang aktif dan memakai baterai, serta kapasitasnya memadai. Alat semacam ini memang kami butuhkan,” tandasnya.

Related posts

Leave a Reply