Produsen Parcel Wajib Cantumkan Identitas

HASIL PENGAWASAN : Contoh temuan produk pangan tidak memenuhi ketentuan hasil pengawasan intensif BBPOM Yogyakarta menjelang Idul Fitri 2022 /SMJogja.com-Amelia Hapsari

YOGYAKARTA, SMJogja.com-Pengawasan produk pangan diintensifkan menjelang perayaan Idul Fitri. Selain produk yang umum dijual di pasaran, BBPOM Yogyakarta juga melakukan monitoring terhadap parcel. Sesuai peraturan, produsen tidak diperbolehkan mengisi parcel dengan barang tanpa izin edar, kemasan rusak, mengandung bahan berbahaya, dan sudah kadaluarsa.

Disarankan, produk yang dibungkus di dalam parcel, minimal satu tahun sebelum tanggal kadaluarsa agar kondisinya tetap baik saat dibuka. “Ketentuan pembuat parcel adalah tidak mengedarkan produk pangan olahan, obat, obat tradisional, dan kosmetik yang sudah kadaluarsa maupun tanpa izin edar. Kemasannya juga tidak boleh rusak seperti penyok, kaleng berkarat, cembung, bocor, dan berubah warna,” terang Kepala BBPOM Yogyakarta Trikoranti Mustikawati saat jumpa pers, Senin (25/4).

Aturan lain yang wajib dipenuhi produsen parcel adalah mencantumkan identitas nama dan alamat lengkap distributor atau toko pembuatnya, serta keterangan daftar isi bingkisan. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan konsumen melakukan komplain jika isi parcel ternyata tidak sesuai. 

Selama pengawasan intensif sejak akhir Maret hingga saat ini, BBPOM tidak menemukan parcel yang tidak memenuhi syarat. Dari 15 sarana pembuat parcel yang diperiksa, semuanya telah memenuhi ketentuan.

Read More

Di lain hal, hasil pengawasan secara umum di wilayah DIY masih ditemukan adanya produk pangan yang tidak melanggar aturan. Dari 99 sarana distribusi yang diawasi, 23 diantaranya tidak memenuhi ketentuan. Sarana yang dicek ini meliputi distributor, pasar modern, toko, dan pasar tradisional. 

Temuan pada sarana-sarana yang tidak memenuhi syarat itu antara lain produk rusak sebanyak 83 pieces, kadaluarsa 96 pieces, dan tanpa izin edar atau ilegal sejumlah 36 pieces. Kebanyakan berupa makanan dan minuman kaleng. Nilai ekonomis keseluruhan temuan tersebut sekitar Rp 6,7 juta. 

“Temuan itu sudah ditindaklanjuti dengan memusnahkan produk di tempat oleh pemilik barang dengan disaksikan oleh petugas. Pengawasan akan terus kami lakukan baik rutin maupun intensif,” kata Trikoranti.

Selama Ramadan ini, BBPOM Yogyakarta juga melaksanakan monitoring di tujuh sentra takjil. Kegiatan pengawasan ini dilakukan menggunakan mobil laboratorium keliling untuk uji cepat bahan berbahaya formalin, boraks, rhodamin B, dan methanyl yellow. Hasilnya, 110 sampel yang diuji dinyatakan memenuhi syarat.

Related posts

Leave a Reply