Ramaikan Kelompok Parkiran, Whani Darmawan Ikut Pamerkan Karya

Whani Darmawan di waktu senggang selalu menyempatkan menorehkan tinta di kertas sebagai bentuk ekspresi diri / ist

JOGJA, SMJogja.com – Ekspresi berkesenian sangat universal. Seseorang dapat berkarya kapan saja dan di mana saja, setelah melalui kontemplasi yang berpijak pada kehidupan sehari-hari. Inilah yang dilalui aktor Whani Darmawan. Setelah melalui proses dan pergulatan dalam berkesenian, saatnya ia perlihatkan sejumlah karyanya.

Bersama teman-teman dari Kelompok Parkiran, ia memamerkan lukisan karyanya, dalam ajang bertajuk ”40+ Alive”. Acara berlangsung 16-31 Mei 2022, di Studio Perum Parangtritis GrahaYasa I Blok A4 Tarudan, Bangunharjo, Sewon, Bantul.

”Kelompok Parkiran merupakan teman-teman yang biasa kumpul di parkiran saat istirahat di kampus dulu,” tutur Whani menceritakan asal mula nama komunitas tersebut.

Whani mengungkapkan, mereka yang terlibat pameran sebanyak 20 pelukis. Mereka antara lain Titoes Libert, Agapetus Christian Dana, Agung Bajag Sumanto, Ahmadsyalabihifni, Alexander Jedhink, Anon Anindito. Ada pula Aria Sukma, Bambang Girindra, Bonita Margaret, Frederic Andreas Atjis, Joko Gundul Sulistiono, Kurnia ”Suyar” Setiawan, Moch Bashori, Ndaru Ranuhandoko, Norman Hendrasyah. Tak ketinggalan Nurul ”Acil” Hayat, Ponco Widianto, Septiawan Wawan ”Cimenk”, Zulkarnain ”Nanang” FM. Kuratornya, Kumbo Adiguno dan Yosa Batu Prasada.

Read More

Semangat Kekerabatan

Kelompok Parkiran, komunitas seni yang muncul dan tumbuh dalam lingkup FSRD ISI Yogyakarta sejak masih berkampus di kawasan Gampingan, Wirobrajan. Kelompok tersebut sejak awal menjunjung semangat kekentalan kekerabatan. Mereka tidak mengkotak-kotakkan jurusan, grafis, seni murni, desain dan lainnya. Itulah yang mendasari spirit pameran ”40+ Alive”.

Whani sendiri selama ini merupakan aktor yang sudah malang melintang di berbagai pementasan maupun film. Ia juga telah banyak menghasilkan karya tulis yang sudah terbit dalam bentuk buku. Sejak 1985, dirinya sudah bertekun di dunia akting.

Ia telah mencatatkan permainannya di panggung-panggung bergengsi dan juga film. Beberapa film yang menorehkan apresiasi atas seni aktingya antara lain ”Drupadi” (Riri Riza 2008), ”Pendekar Tongkat Emas” (Ifa Isfansyah, 2014), ”Monolog Diponegoro” (Armantono 2018).

Kembangkan Talenta

Pada tahun 2019 ia mencatat prestasi gemilang dengan menyabet Piala Citra FFI sebagai the best suporting actor melalui film ”Kucumbu Tubuh Indahku” karya Garin Nugroho. Ia juga mendapatkan banyak nominasi dari berbagai festival film dalam perannya sebagai Darsam di film ”Bumi Manusia” karya Hanung Bramantyo.

”Kali ini saya ingin mengembangkan talenta diri dan mendapatkan kesenangan. Bukan untuk beralih profesi. Jadi kalau suatu saat saya kehilangan kesenangan, ya, mungkin bisa saja berhenti melukis,” ujar Whani di studionya, Nitiprayan Yogyakarta.

Seseorang yang memiliki banyak hal menyangkut estetika dalam diri, menurutnya akan terus mengeksplorasi diri dalam berbagai karya seni. Ia sendiri tidak pernah menempuh pendidikan formal dalam seni rupa tetapi sekarang mencoba mengembangkan bakat masa kecilnya secara otodidak.

Saat ini Whani sudah mengantongi lebih 100 karya lukisan berbagai ukuran dan corak. Terbanyak merupakan eksplorasi tinta cina di kertas. Dua karya dalam pameran nanti, ”A Fallen Angel” dan ”Blackpink Sock” yang masing masing berukuran 63×75 cm acrilyc on carton.

Related posts

Leave a Reply