Renja Dewangga, Pentas Budaya Kampanyekan Isu Lingkungan Global

Puthut Ardianto saat melakukan pertunjukan wayang Rama dan Sinta / dok UMY

JOGJA, SMJogja.com – Sembilan negara terlibat dalam kampanye isu lingkungan melalui pentas budaya di Kolkata, India. Salah satu yangt ikut, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PBI UMY), Puthut Ardianto. Ia juga mengajak dua mahasiswanya yang turut ambil bagian dalam pementasan tersebut, Duhita Kalyana Diwyacitta dan Muhammad Zacky Hidayat.

Ia berpartisipasi dalam program ”Reimagine and Reconnect: Indo-Pacific Synergies Through the Lens of Culture”. Asian Confluence dan Consulate General America yang menggelar kegiatan tersebut. Sembilan negara peserta sebelumnya telah lolos seleksi proposal.

”Ini adalah acara bertemunya negara-negara Indo Pacific untuk berdiskusi beberapa topik seperti trade, maritime, environment and ecology. Nah, konsep acaranya dikemas dalam pertunjukan budaya. Tujuannya, sesama negara di Indo Pacific bisa menemukan kesamaan dan saling terhubung satu sama lain untuk menjawab isu global,” papar Puthut.

Ia menjelaskan dalam konferensi mengambil tema Environment and Ecology, yaitu isu-isu lingkungan dipresentasikan dalam pementasan budaya. Setelah itu dibahas dengan para praktisi dan akademisi yang ahli di bidangnya.

Read More

Renja Dewangga

Puthut menyampaikan keprihatinannya pada kondisi lingkungan dan alam sekitar melalui pementasan budaya Renja Dewangga, an eco-fashion and cultural walk. Renja dalam bahasa Latin berarti daun, sedangkan Dewangga dalam bahasa Sansekerta artinya kain yang indah.

Pertunjukan ini merupakan kombinasi antara tembang Macapat, tari klasik gaya Jogjakarta, dan parade eco-fashion. Pada awal penampilan, Puthut membawakan macapat Pangkur yang telah digubah dalam bahasa Inggris. Ia memainkan dua tokoh wayang Rama dan Sinta dengan membawakan dialog menyikapi isu-isu lingkungan yang terjadi di Indonesia, terutama ketidakpedulian limbah fesyen.

Puthut menyampaikan jika dialog antara Rama dan Sinta ditutup dengan sekar macapat Dhandanggula yang mengawali kampanye slow fashion movement. Para penampil dari India mengenakan busana konsep slow fashion dengan teknik eco-printing.

Konferensi mendatangkan 40 pembicara, 75 penari dan pemusik dari negara-negara Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, Thailand, Myanmar, Filipina, Vietnam, Bangladesh, Bhutan, Nepal, dan Amerika Serikat.

Related posts

Leave a Reply