Ribuan Koleksi Buku Salim Said Dihibahkan ke Perpustakaan UII

Direktur Eksekutif Institut Peradaban, Salim Said dan Rektor UII Fathul Wahid meninjau Salim Said Corner di Perpustakaan UII, Kamis (10/11) / Amelia Hapsari

SLEMAN, SMJogja.com – Perpustakaan Universitas Islam Indonesia (UII) menerima hibah 10.000 eksemplar buku dari Prof Salim Said. Buku tersebut merupakan koleksi pribadi milik sang profesor yang dikumpulkan selama 30 tahun. 

“Sementara, baru sekitar 4.500 buku yang ada di perpustakaan kami, masih terdapat 6.000-an buku yang belum diambil. Sesuai amanah, pengambilan tahap terakhir akan dilakukan jika beliau sudah wafat,” ujar Rektor UII Prof Fathul Wahid saat peluncuran Salim Said Corner di Perpustakaan UII, Kamis (10/11).

Pihaknya berjanji akan merawat koleksi buku itu dengan baik agar bisa memberikan manfaat yang lebih luas. Terdapat bermacam genre buku yang dihibahkan mulai dari tulisan seputar perfilman hingga militer. 

Saat ini, Prof Salim yang dikenal sebagai sosok Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pertahanan tengah menggeluti materi tentang peradaban. Setelah rampung digarap nantinya, karya tersebut juga akan dihibahkan.

Read More

“Kami dukung ikhtiar para intelektual. Ketika merasa tidak mampu merawat koleksi buku miliknya, bisa diserahkan kepada lembaga pendidikan dan pastinya akan berfaedah untuk edukasi anak bangsa,” kata Fathul.

Dia menuturkan kisah pemberian hibah ini. Bermula saat Salim Said diwawancara oleh Helmy Yahya dalam sebuah podcast, dan menyampaikan keinginannya untuk menghibahkan koleksi buku. Seorang kolega yang menonton acara itu lantas menginfokan kepada Fathul. 

Setelah mendapat nomor kontak Prof Salim, dia kemudian menghubunginya pada Desember 2020. Gayung bersambut hingga akhirnya di bulan Januari 2021, kedua belah pihak sepakat menandatangani kontrak penyerahan buku secara bertahap.

Prof Salim juga turut hadir dalam seremoni peluncuran ini. Ia tampak terharu saat menyampaikan kata sambutan. “Saya ingin budaya menghibahkan buku untuk perpustakaan bisa tumbuh di tengah masyarakat kita. Saya sendiri lebih memilih kampus dibanding lembaga pribadi sebab ada jaminan perjanjian buku-buku tersebut akan terus dirawat sampai kapan pun,” ujar Salim yang sampai saat ini masih aktif sebagai Direktur Eksekutif Institut Peradaban.

Dia mengaku tergerak lantaran takut jika dirinya sudah meninggal, tidak ada yang bisa merawat koleksi buku miliknya. Selama ini, ribuan buku tersebut dirawat oleh sang istri.

Related posts

Leave a Reply