Sleman Akan Bangun 3 TPST

Pembakaran sampah berbahaya menggunakan incinerator di PIAT UGM, Berbah, Sleman / SMJogja.com-Agung PW

SLEMAN, SMJogja.com-Pemerintah Kabupaten Sleman berencana membangun Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) di tiga lokasi. Masing-masing tersebar di kawasan barat, tengah, dan timur dengan tujuan untuk membagi konsentrasi timbulan sampah.

Pada zona timur, TPST akan dibangun di Dusun Kenaji, Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan menggunakan dana APBD senilai Rp 38 miliar. Fasilitas pengolahan sampah ini menempati lahan seluas 1,3 hektare. Adapun Sleman barat, TPST rencananya didirikan di Kalurahan Sendangsari, Minggir dengan pembiayaan Dana Alokasi Khusus (DAK). Sementara untuk Sleman tengah, sejauh ini belum diperoleh kepastian lokasi.

“Harapan kami bisa dibangun setidaknya 3 TPST. Pengolahan nantinya menggunakan sistem teknologi yang didatangkan dari Jerman sehingga akan memberikan hasil akhir produk yang bisa bermanfaat bagi beberapa sektor, contohnya pupuk kompos,” terang Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, Kamis (12/5).

Fasilitas TPST yang dimiliki Pemkab Sleman tersebut ditargetkan beroperasi mulai tahun 2023. Menurut Danang, upaya pengolahan sampah perlu segera dilakukan. Terlebih, kondisi TPA Regional Piyungan, Bantul sudah tidak memadai bahkan beberapa kali terpaksa ditutup. Di lain sisi, produksi sampah cenderung bertambah setiap tahun seiring dinamika jumlah penduduk. Saat ini, rata-rata volume timbulan sampah mencapai 700 ton per hari dan 300 ton diantaranya dibuang ke TPA Piyungan.

Read More

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Ephipana Kristiyani menambahkan, pembangunan TPST memang membutuhkan biaya agak mahal di awal namun di dalamnya sudah tercakup teknologi pengolahan residu sampah. Adapun prosesnya, setelah sampah diturunkan dari truk kemudian akan dipilah oleh petugas. Selanjutnya, sampah organik didaur ulang menjadi kompos sedangkan sampah anorganik dijual kembali ke pengepul.

“Nanti yang tersisa hanya residu lalu diolah jadi bahan bakar briket. Teknologi pengolahan inilah yang mahal,” ujarnya.

Dia optimistis tidak akan ada kesulitan dalam pengoperasian TPST nantinya. Sebab petugas DLH sudah biasa melaksanakan tugas operasional harian. Kegiatan pengolahan sampah di 13 transfer depo, dan 23 TPS 3R juga rutin berjalan. Hasil dari pengolahan ini diklaim bisa mengurangi 50-75 persen sampah yang dibuang ke TPA.

Upaya penanganan di tingkat hulu juga dilakukan dengan memberi edukasi kepada masyarakat tentang pemilahan sampah. “Kami juga menggandeng berbagai pihak untuk menangani permasalahan sampah. Contohnya dengan akademisi untuk implementasi sistem ecolindi di transfer depo Lempongsari,” katanya.

Related posts

Leave a Reply