Sosialisasi HKI Harus Lebih Massif

Kepala Sentra HKI UAD, Dra Sudarmini MPd / dok UAD

JOGJA, SMJogja.com – Banyak orang belum mengetahui apalagi memahami makna Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Di perguruan tinggi sekalipun, masih ada yang tidak mengetahui apa dan bagaimana HKI. Padahal HKI sangat penting bagi institusi pendidikan karena dapat digunakan untuk berbagai hal seperti pemeringkatan, akreditasi dan lainnya.

Di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta keberadaan HKI sudah cukup lama. Karenanya dalam tatanan organisasi yang baru dan modern, pimpinan kampus melakukan pelembagaan pada HKI. Langkah tersebut sangat penting dan merupakan salah satu prioritas. Hampir seluruh perguruan tinggi telah melakukannya.

”Sentra HKI di UAD merupakan salah satu bidang di samping bidang lainnya di LPPM. Sentra HKI usianya paling muda dibandingkan dengan bidang lain. Kendati demikian kami berusaha melakukan berbagai strategi agar tidak ketinggalan apalagi pimpinan kampus sudah melembagakan HKI sehingga kinerjanya bisa terukur,” papar Kepala Sentra HKI UAD, Dra Sudarmini MPd.

Ia menilai pimpinan universitas memiliki pertimbangan tersendiri mengenai pelembagaan HKI yang dulunya pusat studi. Menurutnya, jajaran kampus ingin supaya ada percepatan guna mengejar kampus-kampus lain yang sudah dulu memiliki sentra HKI.

Read More

Memang, tutur Sudarmini melanjutkan, ada satu kendala besar yakni pemahaman orang yang bebeda-beda mengenai HKI. Bahkan masih sering muncul ungkapan-ungkapan yang tidak sesuai dengan HKI. Banyak orang membicarakan paten tetapi tidak mengetahui apa dan bagaimana paten.

Kuantitas dan Kualitas

”Ada beberapa bagian yang dilindungi dalam HKI mulai dari hak cipta, paten yang terdiri atas paten dan paten sederhana, desain industri, merek dagang, desain tata letak sirkuit terpadu, indikasi geografis dan perlindungan varietas tanaman,” ujar Sudarmini yang berasa; dari Jawa Tengah tersebut.

Di UAD, jelasnya, ada empat bidang yang menjadi layanan Sentra HKI yakni hak cipta, permohonan paten, desain industri dan merek. Saat ini, ia dan jajarannya juga sedang merintis pendekatan komunal kepada masyarakat yang ingin mendaftarkan indikasi geografis. Indikasi geografis sifatnya komunal sehingga yang mengusulkan harus langsung masyarakat.

Sejak mendapat amanah menjadi Kepala Sentra HKI UAD, ia menyatakan harus bekerja keras melakukan sosialisasi guna meningkatkan pemahaman sivitas akademika mengenai pentingnya HKI. Selain sosialisasi, perlu ada petugas yang memantau setiap saat posisi berbagai permohonan HKI. Ia dan timnya tak kenal lelah melakukan sosialisasi mengenalkan apa dan bagaimana HKI yang benar.

”Kami gencar melakukan sosialisasi ke prodi, fakultas dan universitas, bahkan ke kampus lain di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah agar mereka benar-benar memahami HKI. Kerja keras kami tak sia-sia karena dalam beberapa tahun jumlah pendaftar melampaui target,” tutur Sudarmini.

Ia mencontohkan pengajuan hak cipta yang mencapai lebih 1.300, ada pula pengajuan paten dan paten sederhana . Semuanya mengalami peningkatan dan ia berharap pada tahun-tahun mendatang makin banyak yang mengajukan. Dengan demikian sudah ada kesadaran dari para dosen dan mahasiswa untuk mendaftarkan karya-karyanya.

Related posts

Leave a Reply