Tempat Pengambilan Api Porda Akan Dijadikan Monumen

Tungku tempat pengambilan api Porda XVI dan Peparda III DIY Tahun 2022 yang terletak di petilasan Mbah Maridjan, Cangkringan, Sleman / Amelia Hapsari

SLEMAN, SMJogja.com – Pengambilan api pertama torch relay (pawai obor) Porda XVI dan Peparda III DIY Tahun 2022 sudah berlangsung pada Sabtu (20/8). Api ini diambil dari petilasan Mbah Maridjan Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman.

Dipilih lokasi itu sebagai tempat pengambilan api karena tahun ini Sleman didapuk menjadi tuan rumah Porda-Peparda. Dan berbicara Sleman, tentunya identik dengan Gunung Merapi yang lekat terhadap sosok almarhum Mbah Maridjan sebagai juru kunci. Kini, amanah juru kunci diwariskan kepada putra Mbah Maridjan yang bernama Mas Kliwon Suraksohargo Asihono atau Mas Asih. 

Kepada Suara Merdeka, Mas Asih menuturkan falsafah api yang diambil dari petilasan ini diharapkan bisa memberikan manfaat kepada sesama sebagaimana ajaran dari almarhum Mbah Maridjan. “Semoga Porda dan Peparda bisa berjalan lancar. Semuanya rahayu wilujeng,” doanya.

Api untuk pawai obor tersebut diambil dari tungku yang sengaja dibuat khusus untuk kepentingan event ini. Bahan pembuatan tungku itu menggunakan kayu yang didapat dari hutan sekitar lereng Merapi. Prosesi menyalakan tungku dimulai sejak Jumat (19/8) pukul 17.00 WIB, dilanjutkan doa bersama tokoh masyarakat termasuk camat dan lurah demi kelancaran penyelenggaraan Porda. 

Read More

Tungku tersebut dijaga tetap menyala hingga hari berikutnya untuk diambil oleh Bupati sebagai api pertama kirab. “Ini adalah kali pertama pengambilan api dari Merapi. Sebagai kenang-kenangan rencananya akan dibikin monumen, mungkin dikasih semacam cungkup di bagian tungku,” ujar Mas Asih.

Sementara itu, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengatakan api tersebut mengandung falsafah kehidupan. Api yang diambil dari lereng Merapi melambangkan energi yang keluar terus-menerus dari gunung itu. 

“Harapannya semangat atlet akan selalu berkobar seperti energi Merapi yang tidak pernah padam,” ucapnya.

Setelah tiga hari dibawa mengelilingi 17 kapanewon di Sleman, rangkaian pawai obor berakhir pada Senin (22/8) sore ditandai seremoni penerimaan oleh Bupati.

Related posts

Leave a Reply