Terjadi Keausan di Borobudur, Batasi Pengunjung ke Lantai Atas

Kampus UGM / ist

JOGJA, SMJogja.com – Bangunan Candi Borobudur setiap tahunnya mengalami peningkatan tingkat kerusakan karena menahan beban jumlah pengunjung. Ini akibat banyaknya pengunjung yang menaiki bangunan hingga faktor alam.

Karena itu perlu pembatasan jumlah pengunjung wisata Candi Borobudur untuk melestarikan dan mengkonservasi candi dari risiko kerusakan. Hal itu mengemuka dalam Seminar Series Kepariwisataan yang bertajuk Membicarakan (lagi) Borobudur antara Konservasi dan Pariwisata.

Seminar merupakan kegiatan Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM, menghadirkan tiga pembicara yakni Tenaga Ahli Puspar UGM Prof Yoyok Wahyu Subroto, Kepala Balai Konservasi Borobudur, Wiwit Kasiyati SS MA, Direktur Utama Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, Edy Setijono dan pakar Geofisika FMIPA UGM Dr Wiwit Suryanto.

Yoyok mengungkapkan hampir separuh batuan candi merupakan hasil peninggalan bangunan dari abad ke-8. Apabila jumlah pengunjung yang naik ke lantai atas tidak dibatasi, ia khawatir gesekan kaki dari ribuan pengunjung setiap harinya akan menyebabkan pengikisan batu batu candi.

Read More

”Apalagi ada pengunjung yang sampai naik ke bagian stupa,” ujarnya.

Menurutnya kebijakan membatasi pengunjung yang naik ke bangunan candi memang bisa merugikan dari sisi ekonomi. Namun dari sisi arsitektur bangunan bersejarah dan arkeologi, perlu upaya untuk mempertahankan tingkat keaslian bangunan.

Bebas Karbon

Yoyok juga mengusulkan menjadikan Borobudur sebagai kawasan bebas emisi karbon untuk menjaga dan melestarikan bangunan peninggalan belasan abad tersebut. Ia mengingatkan kalau memang tidak mampu merawat, janganlah sekali-kali merusak.

Kepala Balai Konservasi Borobudur, Wiwit Kasiyati menjelaskan Borobudur sebagai bagian dari situs warisan dunia memang harus dipertahankan keaslian bangunannya. Ancaman kerusakan tidak hanya dari beban jumlah pengunjung yang menaiki bangunan candi namun juga berasal dari alam.

”Terjadi kerusakan lain dari faktor alam berupa panas dan hujan yang mempengaruhi batuan dan relief. Kondisi semakin ke sini makin mengalami kerusakan,” jelasnya.

Sejak tahun 1983, pihaknya setiap tahun terus melakukan monitoring kondisi batu candi, perekatan batu, mengukur tingkat kerusakan pengelupasan dan sedimentasi hingga lubang alveol candi. Ia menyebutkan tingkat kerusakan batu tangga dan lantai mengalami kenaikan.

”Kenaikan nilai keausan mencapai 0,175 cm per tahun, secara akumulasi 3,95 cm. Jadi akumulasi nilai keausan dari tahun 1984 hampir sampai 4 cm,” tandasnya.

Meskipun Borobudur mendapat dukungan beton bertulang tapi pada bagian stupa teras tidak ada beton bertulang. Ini berisiko sewaktu-waktu terjadi kerusakan. Pihaknya melarang pengunjung naik ke stupa.
Beban jumlah pengunjung yang semakin banyak tiap tahunnya menyebabkan tingkat deformasi vertikal candi mengalami kenaikan. Deformasi vertikal mencapai 2,200 cm.

Related posts

Leave a Reply