Tragedi Kanjuruhan, Bentuk Jaringan Antikekerasan Pendukung Sepak Bola

Bupati Malang HM Sanusi meninjau Stadion Kanjuruhan / malangkab.go.id

JOGJA, SMJogja.com – Ratusan orang meninggal dalam kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, usai pertandingan Persebaya melawan Arema. Korban sebagian besar pendukung Arema dan ada pula dari kepolisian. Ini merupakan catatan terburuk dalam sepak bola di Tanah Air.

”Kekerasan dalam pertandingan sepak bola di Kanjuruan merupakan tragedi terburuk dalam sejarah sepakbola Indonesia. Kami sangat prihatin atas tragedi yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan lula-luk serta kerusakan berbagai fasilitas umum,” tutur Ketua Umum Asosiasi Program Sosilogi Seluruh Indonesia, Dr Harmona Daulay dalam siaran persnya.

Karena itu lembaganya minta pertanggungjawaban organisasional PSSI sebagai entitias pengelolaan penyelenggaraan kegiatan pertandingan sepakbola Indonesia. Ia juga mendesak aparat melakukan investigasi hukum terhadap tata kelola penanganan konflik pendukung klub kasus tragedi pertandingan sepakbola di Kanjuruan.

Tata Kelola

Read More

”Perlu pula evaluasi tata kelola penanganan kerumunan oleh lembaga kepolisian dalam konteks pertandingan sepakbola,” imbuh Sekretaris Jendral APSSI, Novri Susan SSos MA PhD.

Ia menyarankan pembentukan jaringan pendidikan antikekerasan terhadap kelompok-kelompok pendukung sepak bola Indonesia. Mereka harus selalu menyampaikan pentingnya melakukan dukungan tanpa kekerasan.

Khusus pada korban tragedi Kanjuruhan, ia mengusulkan pemberian ganti rugi kepada korban jiwa. Penyelenggara pertandingan harus mau bertanggung jawab. Lembaganya juga akan membentuk tim advokasi tragedi Kanjuruhan.

Related posts

Leave a Reply