Ujaran Kebencian dan Intoleransi Terus Menerpa, Perkuat Identitas Budaya Bangsa

Pendiri dan pembina Yayasan Omah Kreasi Centre, Khoirun Nisa memotivasi generasi muda memperkuat identitas budaya bangsa / ist

JOGJA, SMJogja.com – Ulang tahun kemerdekaan ke-77 kali ini terasa lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 selama lebih dua tahun membuat hampir seluruh aktivitas dihentikan. Kini, semangat memperingati hari kiemerdekaan mulai terasa, beragam aktivitas lomba dan pentas berlangsung di berbagai tempat.

”Masyarakat layak bergembira di bulan kemerdekaan. Kemeriahan perlombaan menjadi momentum pelepas kejenuhan dan kepenatan selama pandemi,” ujar Khoirun Nisa, pendiri dan pembina Yayasan Omah Kreasi Centre dalam diskusi dalam rangka kemerdekaan RI.

Ia menyebut kemeriahan perayaan kemerdekaan sebagai ucapan syukur sekaligus titik tolak untuk pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat. Pemerintah dengan cermat dan tepat mengusung tema hari ulang tahun ke-77 untuk mengingatkan agar tidak berpuas diri namun segera pulih dan bangkit.

Identitas Budaya

Read More

Menurutnya identitas budaya bangsa dan nilai-nilai Pancasila menjadi landasan seluruh bangsa untuk pulih serta bangkit. Identitas budaya bangsa tercermin dalam setiap nilai dan butir Pancasila. Sayangnya, cerminan itu menjadi buram dengan serbuan hoaks, ujaran kebencian, hingga intoleransi yang bermunculan seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

”Tantangan identitas budaya menemukan realitas pahit yaitu hoaks, ujaran kebencian, dan intoleransi yang menyerang Bhineka Tunggal Ika. Perlu upaya bersama untuk menjaga dan memperkuat implementasi nilai-nilai Pancasila dalam praktik keseharian yang betul-betul mengakar di tengah masyarakat,” tandas Nisa.

Aktualisasi dan internalisasi Pancasila dalam dunia digital merupakan tantangan tersendiri. Bangsa ini tidak boleh lupa bahwa Indonesia Emas 2045 akan dibangun oleh generasi yang sekarang berkutat dengan gawai dan internet. Sementara itu, cap sebagai generasi unik namun rapuh juga dibarengi dengan identitas budaya yang tengah dihajar problem digital.

Ia bersama Yayasan Omah Kreasi Centre menawarkan berbagai aktivitas di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan. Ia berharap yayasan dapat membantu generasi muda dan masyarakat umum, khususnya di Jogjakarta untuk bersama-sama pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat.

Related posts

Leave a Reply