UMY Berhasil Panen Padi di Lahan Gambut, Ini Cara dan Teknologinya

Rektor UMY Prof Dr Gunawan Budiyanto saat panen raya lahan rawa atau gambut / ist

JOGJA, SMJogja.com – Para petani di area lahan gambut atau rawa sering mengeluh gagal panen karena berbagai persoalan. Akibatnya produksi padi dan beras tidak terjaga konsistensinya. Kendala tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk mengembangkan teknologi tepat guna bagi petani rawa.

Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat UMY, Dr Gatot Supangkat mengungkapkan timnya datang ke daerah rawa-rawa dan menemui warga yang mengeluh gagal panen dan produksi padi yang tidak optimal. Warga memanfaatkan area rawa yang surut sebagai lahan tanam padi. Namun, lahan sering kali mendapat luapan air sungai akibatnya padi terpendam air yang mengakibatkan gagal panen.

Ia dan tim kemudian melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat di Desa Muhuran, Kota Bangun, Kutai Kartanegara dan Desa Minta, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Daerah tersebut memang banyak terdapat rawa.

Menurut Gatot, sektor pertanian sangat rentan terhadap perubahan iklim terutama faktor intensitas hujan karena berpengaruh terhadap pola tanam, waktu tanam, produksi, dan kualitas hasil. Intensitas hujan yang tinggi dan tidak menentu mengakibatkan kondisi lahan pertanian mengalami banjir atau tergenang air.

Read More

Tingkatkan Hasil

”Karena itu perlu teknologi inovasi terkait sistem pertanian. Salah satu inovasi teknologi budidaya pada lahan rawan banjir dan rawa yaitu dengan menerapkan sistem pertanian terapung yang kami kembangkan,” ujar Gatot

Teknologi demplot apung sangat tepat dan cocok untuk Desa Muhuran dan Minta yang memiliki area penuh rawa. Teknologinya memang untuk lokasi lahan rawan banjir atau rawa. Teknologi tersebut dapat meningkatkan hasil produksi dan pendapatan bagi para petani. Sistem pertanian padi apung menjadi solusi untuk mengatasi dan memanfaatkan kondisi lahan rawan banjir dan rawa secara optimal.

Rektor UMY, Prof Dr Gunawan Budiyanto di sela-sela panen raya padi teknologi apung mengatakan teknologi yang dikembagkan 100 persen menggunakan sumber daya lokal. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi kelestarian teknologi sehingga ketika tim pengabdian menarik diri, masyarakat masih tetap berdaya. Bahan mulai dari pembuat alat hingga pupuk, bisa diperoleh secara alami di lokasi setempat.

Related posts

Leave a Reply