Warga Tamanmartani Dukung Pembangunan TPST

Pembakaran sampah berbahaya menggunakan incinerator di PIAT UGM, Berbah, Sleman / SMJogja.com-Agung PW

SLEMAN, SMJogja.com – Rencana pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Dusun Kenaji, Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Sleman mendapat dukungan dari masyarakat setempat. Warga menyatakan tidak keberatan namun berharap dapat dilibatkan sebagai tenaga kerja.

“Berdasar informasi, kebutuhan tenaga di TPST berkisar 30-40 orang. Harapannya mayoritas bisa direkrut dari warga kami,” kata Lurah Tamanmartani, Gandang Hardjanata, Jumat (13/5).

Sebelumnya, masyarakat sudah disosialisasi tentang rencana pendirian TPST di wilayah mereka yang mengadopsi teknologi dari Jerman. Pada Februari lalu, beberapa tokoh masyarakat dan warga juga diajak ke salah satu fasilitas pengolahan sampah di Denpasar, Bali. Setelah mendapat kepastian keberadaan TPST di dusun mereka nantinya tidak akan menimbulkan pencemaran, warga Tamanmartani menyatakan setuju atas rencana tersebut.

“Warga setuju dengan mempertimbangkan aspek kesehatan dan kenyamanan. Selain itu secara tidak langsung juga berdampak terhadap perekonomian mengingat Prambanan merupakan daerah wisata,” terangnya.¬†

Read More

Lahan yang akan dibangun TPST ini adalah tanah kas desa. Luasannya kurang lebih 1,3 hektare dan berjarak sekitar 500 meter dari pemukiman. Selama ini, areal di dekat aliran Sungai Opak itu merupakan lahan tidur yang sering ditambang material pasirnya.

Menurut Gandang, dengan dijadikan tempat pengolahan sampah, warga akan diuntungkan karena tidak ada lagi penambangan yang berpotensi merusak lingkungan. Akses jalan menuju lokasi juga akan diperbaiki. Keuntungan lain, biaya operasional pembuangan sampah dapat ditekan. Selama ini, warga ditarik retribusi Rp 25 ribu per KK untuk pengambilan sampah yang dikelola oleh BUMDes.

Selanjutnya, sampah tersebut dibuang ke TPA Regional Piyungan. Sekali mengirimkan sampah ke TPA diperhitungkan butuh biaya sekitar Rp 450 ribu. Itu pun tidak jarang harus menunggu antrian kendaraan sehingga membuang waktu. 

Jika TPST senilai Rp 38 miliar telah terealisasi, pihak BUMDes tetap akan berperan. Hasil pemilahan awal sampah anorganik akan dibeli oleh BUMDes untuk diolah kembali. “Petani di daerah kami juga bisa memanfaatkan produk pupuk yang dihasilkan TPST. Jadi, semua merasakan keuntungan,” ucap Gandang.

Tempat pengolahan sampah ini direncanakan berkapasitas 15 rit per hari. Fasilitas ditargetkan mulai beroperasi tahun depan. Ketua RW 2 Dusun Kenaji, Abu Bakar (55) mengatakan, seluruh warganya mendukung rencana itu dengan imbal balik mereka turut diberdayakan.

“Kami juga meminta jam operasional TPST pukul 17.00 WIB sudah selesai supaya tidak mengganggu kenyamanan warga, dan tidak ada timbunan sampah yang bau,” tandasnya.

Related posts

Leave a Reply