Waspada Cuaca Ekstrem Sampai Mei

Bencana banjir di Rumah Domes, Prambanan, Rabu (30/3/2022) / dok BPBD Sleman

SLEMAN, SMJogja.com-Periode pancaroba di wilayah DIY diperkirakan berlangsung sampai dengan Mei mendatang. Selama musim peralihan, masyarakat diimbau waspada terjadinya cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan hujan es, angin kencang, dan hujan disertai petir.

“Potensi kejadian cuaca ekstrem akan lebih besar dibanding saat musim hujan. Ini disebabkan ketika pancaroba akan muncul awan konvektif seperti Cumulonimbus,” kata Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta Warjono, Minggu (3/4).

Sleman juga termasuk area yang berpotensi dilanda cuaca ekstrem. Terlebih di wilayah kabupaten ini terbentang Gunung Merapi yang mendukung pertumbuhan awan konvektif.Lebih lanjut dijelaskan Jojo, keberadaan awan di sebelah kanan dan kiri Gunung Merapi bersifat sangat ekstrem. Awan tersebut kemudian tertiup angin dan masuk ke wilayah Sleman.

Sementara, kondisi Sleman yang didominasi perkotaan dengan suhu lebih hangat akan menyebabkan awan konvektif yang masuk memicu hujan disertai angin kencang. “Perlu diwaspadai jika muncul awan yang menjulang tinggi saat siang hari, khususnya di wilayah barat Sleman. Biasanya menjelang sore akan terjadi hujan lebat disertai angin kencang dan petir bahkan hujan es,” ujarnya.

Read More

Meski durasi hujan lebat saat pancaroba relatif singkat yakni maksimal dua jam, tapi bisa berdampak pada bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Berdasar perkiraan BMKG, awal musim kemarau di Sleman akan berlangsung pada dasarian tiga bulan April hingga akhir Mei. Dimulai dari Sleman bagian selatan kemudian ke sisi timur, barat, utara, dan tengah. Puncak Merapi diprediksi akan memasuki kemarau pada awal Juni.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Makwan mengungkapkan, angka kejadian bencana hidrometeorologi cukup tinggi dalam sepekan terakhir. Hujan lebat pada 30 Maret lalu bahkan menyebabkan banjir di destinasi wisata Rumah Domes, Dusun Nglepen, Sumberharjo, Prambanan. Kejadian ini mengakibatkan 60 hektare lahan sawah dan perkampungan warga tergenang air. Namun selang tiga hari, dampak sudah teratasi. 

“Penyebab banjir karena aliran Kali Gawe dan anak-anak cabangnya tertutup rumpun bambu yang terkikis. Tapi sudah dibersihkan dan ke depan akan dilakukan normalisasi sungai serta peninggian talut,” katanya.

Related posts

Leave a Reply