Widodo Brontowiyono Dikukuhkan Jadi Guru Besar ke-27 UII 

SLEMAN, SMJogja.com – Sebagai pionir pendidikan tinggi Indonesia, Universitas Islam Indonesia (UII) terus berupaya adaptif dalam menghadapi perubahan tanpa harus kehilangan nilai luhur bangsa. Salah satunya adalah dengan menyiapkan dosen kompeten dan memiliki kualitas unggul.

Saat ini terdapat 68 dosen dengan pendidikan doktor dan mempunyai jabatan akademik lektor kepala. Tinggal selangkah lagi, mereka akan menjadi calon guru besar. Sampai dengan Oktober 2022 ini, UII telah memiliki 27 guru besar. Terakhir yang dikukuhkan adalah Dr Widodo Brontowiyono yang sekaligus menjadi Guru Besar pertama dari Prodi Teknik Lingkungan UII.

Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UII Periode Tahun 2014-2018 itu ditetapkan menjadi guru besar pada Selasa (12/10). 

“Widodo Brontowiyono adalah Guru Besar ke-1 di Jurusan Teknik Lingkungan, ke-5 di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, dan ke-27 di UII. Raihan gelar jabatan akademik tertinggi ini tentunya akan memberikan dampak positif bagi meningkatnya motivasi dosen-dosen muda di Prodi Teknik Lingkungan khususnya dan UII pada umumnya untuk berupaya mengikuti jejak keberhasilan beliau,” kata Psikolog

Read More

Direktur Sumber Daya Manusia UII, Ike Agustina.

Widodo Brontowiyono merupakan alumni Program Percepatan Guru Besar yaitu program yang diinisiasi oleh UII sejak tahun 2019. Program ini telah terbukti mampu mempercepat pencapaian gelar tertinggi bagi dosen di lingkungan UII. Widodo mengajukan proposal penelitian kolaboratif berjudul Kajian Pengaruh Keberadaan IPAL Komunal Terhadap Kondisi Air Tanah di Lingkungannya dengan menggandeng Thomas Boving dari University of Rhode Island sebagai mitra kolaborasi. 

Dari usulan penelitian kolaboratif ini akhirnya dapat dihasilkan karya ilmiah yang dipergunakan sebagai syarat kunci pengajuan Profesor berjudul “Communal Wastewater Treatment Plants’ Effectiveness, Management, and Quality of Groundwater: A Case Study in Indonesia”. Karya itu diterbitkan dalam Jurnal Internasional bereputasi Q1 dengan SJR 0,72. 

“Keberhasilan yang diraih oleh Prof Widodo ihi diharapkan mampu memberikan daya dorong bagi 6 dosen lain yang sedang mengikuti program percepatan profesor,” tambahnya.

Tujuan program ini adalah membantu para peserta dalam menghasilkan luaran karya ilmiah yang dapat dipergunakan sebagai syarat pengajuan jabatan akademik profesor. Skema yang ditawarkan dalam program percepatan ini antara lain skema penelitian kolaboratif dan skema coaching clinic.

Peserta program ini wajib melibatkan kolaborator atau coach yang telah memiliki jabatan akademik profesor, memiliki h-Index scopus, dan memiliki rekam jejak publikasi sebagai penulis pertama dalam jurnal internasional bereputasi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

Related posts

Leave a Reply